Mengelola Nilai Kebijaksanaan

- Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB
Kehadiran peringatan Tri Suci Waisak 2566 BE ini menjadi momentum awal untuk terus menghidupkan nilai-nilai dan tradisi kebijaksanaan. (Pixabay/JT_Ryan)
Kehadiran peringatan Tri Suci Waisak 2566 BE ini menjadi momentum awal untuk terus menghidupkan nilai-nilai dan tradisi kebijaksanaan. (Pixabay/JT_Ryan)

Sudah saatnya, kehadiran peringatan Tri Suci Waisak 2566 BE ini menjadi momentum awal untuk terus menghidupkan nilai-nilai dan tradisi kebijaksanaan.

Bila kita membaca tema perayaan Tri Suci Waisak 2566 BE pada tanggal 16 Mei 2022 pukul 11.13.46 WIB di Candi Mendut dan Candi Agung Borobudur yang diangkat oleh Walubi bertajuk "Jalan Kebijaksanaan Menuju Kebahagian Sejati" dengan sub temanya "Marilah kita Mengaktualisasikan Ajaran Luhur Sang Buddha dalam Kehidupan Sehari-hari, Menuju Pencerahan Sempurna tiada Batasnya", maka kita disuguhkan berbagai kebaikan, kebijaksanaan, keteladanan, pencerahan dan kebahagiaan.

Ibarat festival kebijaksanaan yang telah dicontohkan oleh Buddha Gautama. Umat Buddha menyakini dengan melakukan doa dan meditasi untuk membebaskan pikirannya dari sifat agresif, iri hati, dan serakah yang memang merupakan bagian dari kondisi manusia. Dengan cara ini, mereka dapat memperoleh ketenangan dan kebijaksanaan.

Doa dan Meditasi

Bila umat Buddha memasuki ruang pemujaan di kuil dan melihat patung Buddha, mereka diilhami oleh cinta kasih, budi baik, belas kasih, kegembiraan dan ketenangan Sang Guru. Ini yang memang mereka cita-citakan. Doa dan meditasi adalah dua disiplin rohani yang dapat digunakan untuk mendapatkan sifat-sifat Buddha.

Umat Buddha di Nepal dan Tibet menggunakan tasbih (male) untuk membantu mereka berdoa. Male bisa mempunyai 108, 54 (27) manik-manik dibuat dari biji-bijian kayu (plastik). Umat Buddha menggunakan manik-manik itu untuk menghitung jumlah berapa kali mereka bersujud serta untuk menambah konsentrasi. Dengan setiap manik-manik, suatu mantera diucapkan (nama seorang Buddha), Bodhisattva didaraskan. Untaian tasbih ini kadang-kadang berisi tiga manik-manik yang lebih besar untuk mengingatkan para peserta ibadat akan Tiga Tempat Perlindungan (Buddha, Dharma dan Sangha).

Umat Buddha di Tibet percaya bahwa ketika mantra didaraskan sekian kali, mereka meningkatkan getaran yang baik di dalam diri mereka. Pengulangan-ulangan mantra dapat membuka pikiran mereka kepada bentuk kesadaran yang lebih tinggi. Mantra yang paling agung, Om mani padme hum, dikenal sebagai "permata dalam bunga teratai" karena dianggap mencakup intisari ajaran Buddha. "Permata" juga dipahatkan pada silinder kuning yang dapat berputar yang disebut roda doa. Setiap kuil dan vihara mempunyai satu set roda doa yang dapat diputar oleh umat Buddha, sehingga getaran dikirim ke segala penjuru.

Baca Juga: Tidak Ada Pemain Persib Positif Covid-19, Langsung Tancap Gas Latihan

Roda doa yang dapat berputar. Masing-masing roda berisi suatu pujian yang ditulis di seluruh permukaan doa, sehingga mantra bisa diulang-ulang sampai berkali-kali ketika roda itu diputar-putar.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB
X