Pantai Pangandaran Masih Menjadi Daya Tarik Utama Pariwisata Pantai di Jawa Barat

- Jumat, 13 Mei 2022 | 10:22 WIB
Pantai Pangandaran masih menjadi daya tarik utama pariwisata pantai di Jawa Barat. (Foto: T Bachtiar)
Pantai Pangandaran masih menjadi daya tarik utama pariwisata pantai di Jawa Barat. (Foto: T Bachtiar)

Di bagian utara Pananjung ini terdapat goa kapur dan goa buatan yang terkenal dengan sebutan Goa Jepang, merupakan jejak dari Perang Dunia II, setelah Jepang menduduki Pulau Jawa tanggal 18 Maret 1942. Juga di dalam kawasan ini terdapat peninggalan prasejarah berupa lingga dan yoni.

Pantai barat menjadi pusat kegiatan wisatawan sejak pagibuta sampai petang menjelang malam. Oleh karena itu memerlukan ketegasan manajemen pariwisata di Kabupaten Pangandaran untuk mengadakan zonasi kegiatan. Misalnya, tidaklah aman bagi pengunjung, bila motor-motor kecil yang disewa dapat dengan leluasa mondar-mandir di sekitar tempat pengunjung berenang, bermain bola, bermain pasir, dan duduk-duduk menunggui anaknya yang sedang berenang. Bila diatur dengan baik, ada zonasi, maka arah motor-motor kecil itu ke wilayah pantai yang tidak menjadi tempat berenang karena ombaknya besar. Demikian juga perahu-perahu yang beroperasi di pantai barat kurang memberikan rasa aman bagi anak-anak yang keasyikan berenang. Secara umum, memang kegiatan wisata berperahu lebih dipusatkan di pantai timur di Teluk Pangandaran, namun ketika pengunjung padat, justru banyak ditawarkan untuk berperahu di Teluk Parigi.

Baca Juga: Lebaran Ketupat dan Iklim Urban yang Berkelanjutan

Fasilitas kepariwisataan di Pangandaran sudah lebih dari cukup. Penginapan, rumahsinggah, hotel, warung, dan rumahmakan dapat memenuhi kebutuhan wisatawan. Dan, yang paling berpengaruh terhadap jumlah wisatawan adalah jalan masuk ke pusat kegiatan wisata yang sudah baik.

Menurut TO Simandjuntak dan Surono (1992) dalam Peta Geologi Lembar Pangandaran, Kala Oligosen, antara 34 – 23 juta tahun yang lalu, kawasan Pangandaran ini ditutupi oleh Formasi Jampang berupa material gunungapi yang tersebar luas, berupa breksi, tuf dengan sisipan lava, berselingan dengan batupasir sela, batulempung, napal, dan sisipan konglomerat lebarnya antara 15 – 20 km. Karena dinamika bumi yang terus berlangsung, secara evolutif terjadi pengangkatan kawasan Pangandaran secara regional. Dalam perjalanan waktu, terjadi penurunan selebar kurang-lebih 6 km., termasuk sepertiga Pulau Pananjung bagian utara, sehingga antara yang terangkat dan yang turun secara evolutif itu membentuk cekungan dengan beda ketinggian sekitar 300 m. Ke dalam cekungan itu air laut, menyatu dengan laut di sekitarnya, sehingga bagian yang terangkat di selatan menjadi pulau tersendiri, kemudian dinamai Pulau Pananjung, yang terpisah dari pulau induknya yang sekarang dinami Pulau Jawa.

Kira-kira 4-5 km mulai dari ujung utara Pulau Pananjung 4-5 km ke utara, rona buminya sangat datar. Wisatawan akan merasakan keadaan ini, misalnya di jalan yang mengarah utara – selatan mulai gerbang karcis masuk sampai ke arah pantai. Di kiri kanan jalan sudah dibangun permukiman, dan makin ke selatan semakin banyak didirikan penginapan, hotel, dan rumahmakan. Kawasan yang sudah padat inilah yang pernah tergenang laut dangkal yang jernih antara 34 – 17 juta tahun yang lalu.

Ketika tergenang laut dangkal yang tenang dan jernih itulah di sisi utara “Pulau Pananjung” tumbuh binatang koral. Setelah terumbu itu tumbuh jutaan tahun sambil terangkat ke permukaan secara evolutif, kemudian mendapatkan pengaruh dari panas matahari dan air hujan yang melarutkan batukapur. Jejak peninggalannya berupa batugamping terumbu di Pulau Pananjung bagian utara, yang umurnya sekitar 17 juta tahun yang lalu.

Koral terangkat ke permukaan kemudian mati, menjadi batugamping terumbu setebal kurang-lebih 80 m, lalu berbagai tumbuhan hidup di atasnya. Akar-akar pohon membawa air hujan meresap jauh ke dalam, melarutkan batukapur secara perlahan. Selama jutaan tahun, batu kapur yang melarut itu membentuk celah, rongga, kemudian melarut lebih besar menjadi goa-goa kapur, seperti: Guha Lanang, Guha Panggung, dan Guha Parat. Di dalam goa terdapat bentukan-bentukan hasil pelarutan, seperti bentukan yang menggantung runcing di langit-langit goa disebut stalaktit, dan yang tumbuh dari dasar goa disebut stalagmit.

Sementara di bagian selatan Pulau Pananjung itu tidak terdapat goa kapur, karena batuan penyusunnya berupa Formasi Jampang. Deburan ombak dari arah Samudra Hindia yang kuat, telah merontokkan bagian-bagian yang lemah dari material hasil letusan gunungapi purba. Pada mulanya membentuk ceruk, yang terus berproses menghasilkan lorong yang semakin panjang ke dalam dan besar, membentuk goa pantai. Ketika goa terus membesar, sementara atap goanya tak kuat lagi menahan bebannya sendiri, maka atap goa itu akan ambruk, meninggalkan bentukan yang terpisah. Proses alam terus berlanjut, bagian yang terpisah itu yang akan terus dihantam gelombang, digerus arus, dipanasi matahari, disirami air hujan. Bagian yang lemah akan dihancurkan, sementara bagian yang paling kuat akan bertahan, membentuk apa yang dikenal dengan sebutan stack. Karena bentuk stack-nya menyerupai layar perahu yang sedang melaut di sudut timurlaut Pulau Pananjung, maka batu tegak itu dinamai Batulayar.

Setelah gelombang dari Samudra Hindia itu menghantam sisi selatan Pulau Pananjung, energi ombaknya melemah di sisi barat dan timur pulau, dan semakin melemah di bagian belakang pulau. Proses inilah yang secara evolutif dan terus berjalan tiada henti mengendapkan material lumpur, pasir, dan kerikil di balik pulau, menyambungkan kembali Pulau Pananjung dengan Pulau Jawa yang pernah terpisah inilah yang disebut tombolo. Di permukaan tombolo inilah jalan, hotel, rumahmakan, dan fasilitas wisata lainnya dibangun. Setelah tombolo terbentuk, maka laut antara Pulau Pananjung – Pulau Jawa jadi terpisah, ada pantai timur dan pantai barat, serta membentuk pantai yang melengkung, di sebelah timur dinamai Teluk Pangandaran dan di sebelah barat dinamai Teluk Parigi.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB

Curug Pelangi, Seindah Namanya

Senin, 25 Juli 2022 | 15:20 WIB

Asa di Fenomena Citayam Fashion Week SCBD

Rabu, 20 Juli 2022 | 15:38 WIB

Musim Kondangan dan Fenomena Amplop Digital

Selasa, 19 Juli 2022 | 19:30 WIB

Dua Nama Geografi yang Sering Keliru Dimaknai

Selasa, 19 Juli 2022 | 15:30 WIB
X