Pantai Pangandaran Masih Menjadi Daya Tarik Utama Pariwisata Pantai di Jawa Barat

- Jumat, 13 Mei 2022 | 10:22 WIB
Pantai Pangandaran masih menjadi daya tarik utama pariwisata pantai di Jawa Barat. (Foto: T Bachtiar)
Pantai Pangandaran masih menjadi daya tarik utama pariwisata pantai di Jawa Barat. (Foto: T Bachtiar)

Pendapatan daerah dari pariwisata, seperti yang didapat oleh Pemerintah Kabupaten Pangandaran dari tiket masuk pascalebaran 2022, sungguh sangat besar.

Semoga pemasukan itu digunakan secara proporsional, di antaranya untuk penataan kembali kawasan dengan benar, dan sesuai karakter bumi dan budaya Pangandaran. 

Menurut berita daring (11 Mei 2022), Bupati Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, menyatakan, dari hasil penjualan tiket masuk ke destinasi wisata Pangandaran pada libur lebaran tahun 2022 mencapai Rp7 miliar. Menurutnya, diperkirakan perputaran uang di wilayahnya mencapai Rp600 miliar selama libur lebaran tahun 2022.

Pendapatan yang luar biasa bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran, juga bagi para pelaku wisata. Dalam waktu liburan lebaran yang pendek, sehingga wisatawan ingin memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk berlibur bersama keluarga. Sehingga dalam waktu yang hamper bersamaan, 100.000 lebih wisatawan tumplek ke berbagai destinasi wisata alam, seperti Pantai Pangandaran dan Pantai Sayangheulang dan Teluk Cilauteureun, Pameungpeuk, Kabupaten Garut.

Wisatawan yang sudah sangat melebihi daya tampung nyaman tempat wisata, berdampak pada kemampuan atau ketersediaan tempat parkir, panjang ruas jalan dan lebar jalan di destinasi wisata, pengaturan pola lalu-lintas, kedisiplinan, dan tidak terencananya dengan baik sarana dan prasarana pariwisata, menyebabkan kemacetan kronis yang berulang setiap tahunnya. Uangnya dikeruk, sementara kelancaran arus masuk dan ke luar wisatawan tidak diperhatikan dengan baik. 

Pantai Pagandaran masih menjadi daya tarik utama wisata pantai di Jawa Barat. Destinasi parisata di Kabupaten Pangandaran itu seperti pasar serba ada yang menyediakan banyak pilihan wisata, seperti wisata di aliran sungai dan wisata pantai di selatan Jawa Barat, yang menyuguhkan banyak daya tarik. Keragaman atraksi wisata alam semakin memperkuat daya tarik wisata Pangandaran. Ditambah jalan masuk yang sudah baik, memudahkan bus-bus berukuran besar dapat masuk dengan mudah. Demikian juga angkutan umum berupa bus yang rutin melayani jalur ini dengan lancar. Untuk mobilitas selama di Pangandaran, pengunjung dapat menggunakan becak, menyewa sepeda, atau sepeda motor. Dengan bersepeda, pengunjung dapat menjelajah ke kawasan-kawasan yang lebih jauh, ke perkampungan masyarakat petani dan nelayan, menikmati alam pedesaan, menyusuri kebun, dan talun kelapa. Olahraga sambil belajar tentang kehidupan dari masyarakatnya.  

Baca Juga: Puluhan Hewan Ternak di Jawa Barat Terpapar Penyakit Mulut dan Kuku

Namun, atraksi utama wisata Pangandaran masih tetap, pantai dengan deburan ombak dan pasir putih yang halus. Di pantai ini ada bagian yang aman karena terlindung oleh kawasan konservasi Pananjung seluas 532 hektar, yang terletak di antara dua teluk, Teluk Pangandaran di sebalah timur, dan Teluk Parigi di sebelah barat, tempat berenang bagi wisata. Wisatawan dapat berenang di Teluk Parigi, di pantai barat yang dinyatakan aman, menjadi magnet yang kuat dari Pangandaran. Ombak di pantai selatan Pulau Jawa yang terkenal dengan hantamannya yang kuat, energinya nyaris dihabiskan saat menghantam sisi selatan Pulau Pananjung. Ombak itu kemudian melemah di balik pulau, sehingga menjadi tempat yang aman untuk berenang.

Pulau yang menjadi benteng bagi kawasan wisata Pangandaran ini sudah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam (TWA) Pananjung sejak tahun 1978. Sebelumnya, pada tahun 1922 Residen Priangan, Evere, menjadikan kawasan Pananjung sebagai Taman Buru. Pasca kemerdekaan, sejak tahun 1961, statusnya berubah menjadi Cagar Alam. Di kawasan konservasi ini, yang paling banyak berkeliaran adalah monyet dan rusa. Binatang lainnya adalah trenggiling, lutung, landak, cangehgar (ayam hutan), ular hujau, biawak, dan banteng. Pada tahun 2001, banteng yang tersisa hanya tinggal lima ekor.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB
X