Gambaran J.E. Teijsmann tentang Cicalengka Tahun 1853

- Kamis, 12 Mei 2022 | 17:13 WIB
Tiga jembatan rel kereta api di dekat Leles, dengan latar belakang Gunung Mandalawangi, sekitar 1910. Junghuhn dan Teijsmann pada paruh pertama abad ke-19 sama-sama menyebutkan Mandalawangi saat mengisahkan tentang Cicalengka.  ( Sumber: KITLV 26242.)
Tiga jembatan rel kereta api di dekat Leles, dengan latar belakang Gunung Mandalawangi, sekitar 1910. Junghuhn dan Teijsmann pada paruh pertama abad ke-19 sama-sama menyebutkan Mandalawangi saat mengisahkan tentang Cicalengka. ( Sumber: KITLV 26242.)

Kata Teijsmann, perjalanan dari Cicalengka ke Garut itu menawarkan pemandangan alam sangat indah, meski kadang-kadang ada pula yang tidak sedap (1855: 202-203).

“Di Jawa, kurator Teijsmann terpaksa dipilih menjadi penanggung jawab harta karun yang diperoleh. Teijsmann tahu rumah bagi kina adalah kawasan gunung yang lebih tinggi dan dingin, yaitu di Cipanas, Cibodas, Cibeureum, dan Kandangbadak yang ketinggiannya berturut-turut 1.200, 1.290, 1.460, dan 2.372 meter di atas muka laut. Dia dibantu pengawas Teuscher yang mumpuni membuat kebun bibit, yang benihnya disebar sangat hati-hati, dan menyediakan perlindungan yang diperlukan.”

“Lahan itu dipilih karena alasan sederhana bahwa tidak ada tanah lain di bawah pengawasan Teijsmann. Dia mencatat cara kerjanya dalam surat bertanggal 30 Januari 1854, di mana dia menambahkan proposisi, agar pengecambahan benih menyakinkan, sebuah komisi seharusnya dinominasikan, dan berfungsi untuk menelusuri lahan yang cocok dan menentukan elevasinya. Dia lebih jauh meminta adanya budidaya percobaan kina di tempat terpilih, yang tidak terbatas pada daerah tersebut, melainkan juga mencari lahan lainnya yang cocok.”

Dua kutipan di atas saya terjemahkan dari A Handbook of Cinchona Culture (1883: 48) karya K.W. van Gorkom, mantan inspektur kepala budidaya Hindia Belanda, sebagai hasil pengginggrisan Benjamin Daydon Jackson, sekretaris Linnean Society di London.

Teijsmann di atas merujuk kepada Johannes Elias Teijsmann (1808-1882), yang terkenal sebagai ahli biologi, botanis, pengumpul tanaman, dan kurator ‘s Lands Plantentuin atau Kebun Botani Bogor antara 1830-1869. Sedikit riwayatnya dibahas oleh C. de Vos (Korte schets van de geschiedenis der plantkunde en van hare voornamste bervorderaars, 1889: 106-107).

Menurut de Vos, Teijsmann lahir pada 1808 di Arnhem, Belanda. Ayahnya ahli kebun. Kemudian tanpa mendapatkan pendidikan sains, dia memulai karier sebagai magang ahli kebun kepada Graaf van den Bosch. Ketika van den Bosch diangkat menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda pada 1829, Teijsmann dibawa serta sebagai ahli kebun pribadi. Pada akhir 1830 dia diangkat menjadi kurator di Kebun Botani Bogor, hingga pensiun pada 1869.

Alhasil, pada dasarnya, Teijsmann praktisi bukan teoritisi. Namun, selama masa kerjanya, banyak tanaman penting yang berhasil ditanam di Kebun Botani Bogor. Atas prestasinya dia dianugerahi gelar sebagai Inspecteur honorair des Cultures pada 1858 dan ridderkruis van den Nederlandschen Leeuw pada 1864. Setelah Teijsmann meninggal pada 22 Juni 1882, Miquel menghormatinya dengan memberi nama genus palma baru sebagai Teysmannia.

Baca Juga: Lebaran Ketupat dan Iklim Urban yang Berkelanjutan

Dalam konteks kutipan di atas, Teijsmann termasuk salah seorang perintis penguji coba penanaman kina di Pulau Jawa. Bila kembali ke buku van Gorkom (1883: 44-45), di sana disebutkan Teijsmann menerima bibit kina Calisaya pada April 1852 atau empat tahun sebelum Haaskarl berhasil membawa benih kina dari Amerika Selatan. Teijsman sendiri mendapatkannya dari kebun akademi di Leiden, yang dikirim dari Belanda pada 1 Desember 1851.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menengok Alasan Seseorang Tetap Melajang

Jumat, 1 Juli 2022 | 15:53 WIB

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB
X