Lebaran Ketupat dan Iklim Urban yang Berkelanjutan

- Rabu, 11 Mei 2022 | 12:20 WIB
Ilustrasi ketupat. Lebaran Ketupat memiliki makna filosofi yang tidak hanya sebatas opor ayam atau soto ketupat yang biasa disajikan setiap tanggal 7 Syawal.  (Ayobandung.com)
Ilustrasi ketupat. Lebaran Ketupat memiliki makna filosofi yang tidak hanya sebatas opor ayam atau soto ketupat yang biasa disajikan setiap tanggal 7 Syawal. (Ayobandung.com)

Tentu, Lebaran Ketupat memiliki makna filosofi yang tidak hanya sebatas opor ayam atau soto ketupat yang biasa disajikan setiap tanggal 7 Syawal. Namun, ada makna yang lebih representatif, hingga kemudian kita bisa menjumpai sakralitas dan sosio-kulturnya yang cukup menawan.

Setiap tahun, sakralitas  Lebaran Ketupat semakin mengalami pergeseran atau yang biasa kita sebut dengan dekadensi. Kabar baiknya, saya hidup di kampung yang radiasi urbannya tidak terlalu kontras, walau—meski sedikit—ada. Dengan kata lain,  Lebaran Ketupat semakin kehilangan suasana sakralnya.

Konon, setelah saya baca esainya K. A. Dardiri Zubairi, Lebaran Pasca Lebaran, dalam bukunya ‘Wajah Islam Madura’, seolah dengan apik saya diuguhkan sebuah grafis yang menggambarkan suasana lebaran waktu beliau masih kecil. Meski tidak dengan detail, tapi saya cukup mendambakan suasana-suasana sebagaimana beliau tulis dalam bukunya tersebut. Dan yang jelas, suasana itu kontras berbeda dengan  Lebaran Ketupat pada masa saya sekarang.

Telasan topa’ (bahasa Madura dari Lebaran Ketupat) pada masa itu menciptakan iklim kekerabatan yang sangat erat. jika meminjam istilahnya K. Dardiri Zubairi—  Lebaran Ketupat dulunya sangat guyub. Kekariban bahkan terjadi dan tercipta sebelum lebaran tiba.

Pada masa itu, hampir semua orang bisa membuat anyaman ketupat. Sebab, sejak mereka masih masih kecil tidak hanya tahu menghabiskan opor masakan ibu yang disiapkan untuk dihidangkan ketika  Lebaran Ketupat. Namun, mereka juga diajarkan untuk membuat anyaman ketupat (dalam bahasa Madura dikenal dengan istilah orong ).

Baca Juga: Sadranan, Tradisi dan Kearifan Lokal yang Kaya Nilai Karakter

Hal ini dilakukan agar tradisi menganyam ketupat (yang biasanya terbuat dari daun siwalan dan janur muda) tidak hilang ditelan zaman. Sehingga ketupat bisa terus eksis sampai beberapa tahun, bahkan beberapa abad ke depan karena penganyamnya sudah mengalami regenerasi.

Kekerabatan hangat biasanya juga tercipta ketika membuat orong tersebut. orang-orang pada masa itu akan berkumpul (antar keluarga bahkan antar tetangga) dan menganyam ketupat secara bersama-sama. tentu, ini merupakan suasana lebaran yang patut didambakan meski sulit direalisasikan pada masa sekarang. Sekalipun ada, jumlahnya relatif sedikit dan merupakan momen yang sangat langka.

Setelah itu, antar tetangga kemudian saling berbagi ketupat yang telah masak. Bentuk hantarannya pun bermacam, ada hanya ketupatnya saja, ada yang lengkap dengan lauk-pauknya, misal; ayam goreng, serundeng, dan telur rebus. sebuah kenikmatan yang tidak hanya stagnan pada masakannya saja, melainkan juga diperkuat dengan bumbu kekeluargaan yang tercipta.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB
X