Sadranan, Tradisi dan Kearifan Lokal yang Kaya Nilai Karakter

- Rabu, 11 Mei 2022 | 12:00 WIB
Sadranan adalah upaya dari dakwah Walisongo, tradisi ini merupakan kegiatan keagamaan yang telah menjadi tradisi masyarakat Jawa. (Wikimedia Commons/Susilo_Hendro/Lisensi CC)
Sadranan adalah upaya dari dakwah Walisongo, tradisi ini merupakan kegiatan keagamaan yang telah menjadi tradisi masyarakat Jawa. (Wikimedia Commons/Susilo_Hendro/Lisensi CC)

Sadranan adalah upaya dari dakwah Walisongo, tradisi ini merupakan kegiatan keagamaan yang telah menjadi tradisi masyarakat Jawa.

Indonesia mempunyai beragam kebudayaan, salah satunya kebudayaan lokal yang merupakan sebuah ciri khas daerah yang tumbuh dan turun temurun dari generasi ke generasi yang mempunyai nilai-nilai baik yang diikuti oleh sebuah komunitas.

Di Cepogo, Kabupaten Boyolali terdapat tradisi kearifan lokal unik yakni Sadranan yang pelaksanaanya berbeda dari daerah lain.

Kita tahu sebuah kearifan lokal di suatu daerah mempunyai kandungan nilai-nilai yang baik. Nilai-nilai tersebut diturunkan oleh leluhur mereka dari generasi ke generasi yang mengakibatlkan kearifan lokal budaya tersebut tidak terkikis oleh waktu.

Kearifan lokal di suatu daerah merupakan ciri khas sehingga walaupun sama dalam pemberian nama, dalam pelaksanaanya ada beberapa perbedaan. Karena nilai-nilai dari Sadranan mempunyai peranan penting dalam kehidupan, maka masyarakat di Cepogo terus menerus mengikuti pelaksanaan kebudayaan tersebut.

Sadranan adalah upaya dari dakwah Walisongo, tradisi ini merupakan kegiatan keagamaan yang telah menjadi tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan setiap tahunnya pada tanggal 17 sampai 24 bulan Ruwah (Sya’ban).

Semua warga di Cepogo ikut andil sehingga menambah nilai-nilai kebersamaan dan terlihat harmonis. Dengan adanya Sadranan dapat dijadikan sarana bagi masyarakat yang mempunyai latar belakang yang berbeda berkumpul menjadi satu dan membaur sehingga tidak adanya strata atau tingkatan mana yang kaya dan mana yang miskin dan dapat meminimalisir perpecahan.

Pelaksanaan Sadranan diawali dengan besik. Besik adalah kegiatan membersihkan desa tidak hanya makam, namun seluruh tempat-tempat yang ada di desa. Pelaksanaannya dilakukan dengan cara serempak dan bergotong royong. Setiap keluarga melaksanakan ziarah kubur dan berdoa. Tidak hanya berdoa namun juga menaburkan bunga. Bunga yang ditaburkan terdiri dari melati, mawar, kantil dan lain-lain. Dengan tabur bunga mempunyai makna sebagai tanda penghormatan kepada arwah leluhur, karena masyarakat percaya bahwa arwah menyukai wewangian. 

Baca Juga: Kisah Inspiratif Presiden yang Menyumbangkan 90 Persen Gajinya untuk Rakyat

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Budaya Kekerasan

Selasa, 7 Februari 2023 | 12:17 WIB

Lato Lato dan Politik

Senin, 6 Februari 2023 | 12:35 WIB

Babah Liem Siang alias Munada

Senin, 6 Februari 2023 | 10:44 WIB

Efek Kecanduan Game Online

Selasa, 31 Januari 2023 | 15:06 WIB

Jejak Pelaut Belanda dan Inggris di Benua Australia

Senin, 30 Januari 2023 | 10:36 WIB

Warga Kampung Naga Harmoni di Keluk Ci Wulan

Sabtu, 28 Januari 2023 | 14:20 WIB

Mewaspadai Konflik Terbuka di Asia Pasifik

Rabu, 25 Januari 2023 | 13:55 WIB

Mewujudkan Indonesia Emas dengan Memberantas Stunting

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:54 WIB

Imlek: Merawat Kebhinekaan, Meneguhkan Keindonesiaan

Senin, 23 Januari 2023 | 18:20 WIB

Potret ‘Pengemis Online’ yang Meresahkan

Senin, 23 Januari 2023 | 16:51 WIB
X