Kisah Inspiratif Presiden yang Menyumbangkan 90 Persen Gajinya untuk Rakyat

- Rabu, 11 Mei 2022 | 11:13 WIB
Dalam buku Perjuangan dan Pengabdian Presiden Termiskin, Zaenuddin HM mengungkap empat sosok pria yang memiliki jejak rekam yang baik selama menjabat presiden. (Sam Edy Yuswanto)
Dalam buku Perjuangan dan Pengabdian Presiden Termiskin, Zaenuddin HM mengungkap empat sosok pria yang memiliki jejak rekam yang baik selama menjabat presiden. (Sam Edy Yuswanto)

Zainuddin dalam buku tersebut membeberkan sebuah fakta mencengangkan, bahwa Mujica tidak tinggal di Istana Presiden. Dia justru memilih sebuah rumah yang sangat sederhana di peterenakan milik istrinya, di pinggiran Montevideo Ibukota Uruguay. Jangan membayangkan ada tim pelayan khusus atau kepala rumah tangga yang bisa melayani dan memasak apa saja seperti layaknya rumah kepala negara. Mujica dan istrinya bekerja sendiri memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, di luar keprotokolan kepresidenan. Mereka juga menggarap sendiri tanah pertanian dengan bercocok tanam bunga krisan untuk dijual. Maklumlah, profesi asli Mujica memang seorang petani, yang sebelum menjadi presiden, hampir seluruh waktunya habis di lahan pertanian.

Selain hidup dengan kesederhanaan, Mujica (selama menjadi presiden) menyisihkan sebagian besar gajinya untuk rakyat miskin. Gajinya perbulan US$ 12 ribu atau Rp 116 juta. Dia mengambilnya, namun menyumbangkannya 90 persen untuk orang-orang miskin yang membutuhkannya. Dia hanya menyisihkan US$ 800 atau Rp 7,7 juta gajinya, nyaris sama dengan rata-rata penghasilan rakyatnya yakni US$ 775 atau Rp 7,5 juta (halaman 38-39).

Baca Juga: Memahami Novel Fanfiksi dan Hukum Hak Cipta di Indonesia

Dalam buku terbitan Kreasi Kata (2014) tersebut dibeberkan bahwa gaya hidup sederhana Mujica bukan hanya di rumah, tapi juga saat bekerja di kantor atau ketika mengambil keputusan penting terkait nasib bangsa dan negaranya. Sebuah foto memperlihatkan misalnya, ketika dia melantik Menteri Keuangan Mario Bergara di Montevideo. Saat itu Mujica duduk diapit sang calon menteri dan wakil presiden. Sang wapres dan calon menteri mengenakan jas lengkap dengan dasinya. Tapi Mujica? Tanpa jas, tanpa dasi, tanpa kemeja yang disetrika licin, juga tanpa sepatu kulit yang mahal dan  semir yang kinclong. Dia hanya memakai kemeja biru muda kusut yang dikeluarkan, celana ngatung, dan sandal.  

Mujica mengatakan bahwa gaya hidupnya yang sederhana itu adalah suatu pilihan. Dia merasa nyaman, bahkan tidak merasa miskin. “Banyak orang menjuluki saya sebagai ‘presiden termiskin’, tapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin itu adalah mereka yang hanya bekerja untuk memenuhi gaya hidup yang mahal, dan selalu ingin lebih dan lebih. Ini hanyalah masalah kebebasan. Jika Anda tidak memiliki banyak keinginan, maka Anda tak perlu bekerja seumur hidup seperti budak. Dengan begitu Anda memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri,” tutur Presiden yang juga seorang vegetarian itu (halaman 40).

Pilihan hidup sederhana, di mana pun dan kapan pun, rupanya sudah menjadi filosofi hidup seorang Jose Mujica. Jauh sebelum dia menjadi presiden, dia memang sudah sanagat sederhana. Tatkala menjadi anggota parlemen, Mujica pun hanya menggunakan motor vespa sebagai alat transportasi ke gedung parlemen. Dia tidak pernah merasa minder (inferior) ataupun malu, sementara yang lain jor-joran dengan mobil mewahnya (halaman 43).

Baca Juga: China Belajar dari Perang di Ukraina

Sebagai petani, Mujica berkomitmen membangun desa-desa di negaranya. Dia juga fokus membangun perumahan bagi kaum miskin. Tahun 2012, rata-rata kemiskinan di Uruguay telah menurun sampai 12,4 persen, mereka telah bangkit dari keterpurukan yang dialami pada tahun 2004. Sementara pengembangan teknologi di bidang pendidikan dengan program pembagian laptop gratis sudah diperluas hingga sekolah menengah pertama. Di bidang kesehatan, angka kematian bayi terus menurun. Demikian pula di sektor ketenagakerjaan, angka pengangguran turun hingga 6 persen (halaman 45).

Terbitnya buku berjudul Perjuangan dan Pengabdian Presiden Termiskin karya Zainuddin HM ini layak kita apresiasi dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi para pemimpin di negeri ini.  [*]

 

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nama Geografi Menjadi Istilah Geomorfologi Khas Sunda

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:55 WIB

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X