Memahami Novel Fanfiksi dan Hukum Hak Cipta di Indonesia

- Senin, 9 Mei 2022 | 15:50 WIB
Ilustrasi poster film Startrek. Fanfiksi merupakan suatu karya fiksi yang dibuat oleh seorang penggemar dengan memakai cerita terkenal lainnya yang sudah ada. (Flickr/Randy McDonald)
Ilustrasi poster film Startrek. Fanfiksi merupakan suatu karya fiksi yang dibuat oleh seorang penggemar dengan memakai cerita terkenal lainnya yang sudah ada. (Flickr/Randy McDonald)

Dua contoh fanfiksi di atas dapat dikomersialkan karena latar belakang karakter aslinya telah banyak diubah dari mulai nama, tempat tinggal, hingga perjalanan hidupnya. Pengarang hanya menggunakan wajah seorang artis untuk menggambarkan visual tokoh dalam fanfiksinya dan hal tersebut hanya sebatas penggunaan non-komersial, yaitu saat fanfiksinya belum dibukukan.

Masih menjadi perbincangan hangat, apakah boleh menggunakan nama artis terkenal dalam karya fanfiksi untuk dikomersialkan menjadi buku fisik atau film?

Baca Juga: 6 Pemenang Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com April 2022: Total Hadiah Rp1,5 Juta!

Masyarakat awam mungkin banyak yang menganggap hal tersebut wajar ketika kita menggunakan sebagian besar latar belakang seorang artis terkenal untuk tokoh fanfiksi. Padahal segala hal yang melekat pada diri artis tersebut memiliki hak cipta, sekalipun hanya sebatas nama. Tanpa adanya izin dari pihak yang bersangkutan, hal tersebut dapat termasuk dalam kasus pelanggaran hak cipta.

Merujuk pada Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta, menggunakan nama artis terkenal sebagai tokoh novel fanfiksi tanpa izin dari pemilik terkait dapat termasuk penggunaan wajar atau masuk ke pelanggaran sepanjang melihat batasan pada pasal 43 UU No.28 tahun 2014 yang berbunyi:

Perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta meliputi:

  1. Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan lambang negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli;
  2. Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh atau atas nama pemerintah, kecuali dinyatakan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan, pernyataan pada Ciptaan tersebut, atau ketika terhadap Ciptaan tersebut dilakukan Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan;
  3. Pengambilan berita aktual, baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, Lembaga Penyiaran, dan surat kabar atau sumber sejenis lainnya dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap; atau
  4. Pembuatan dan penyebarluasan konten Hak Cipta melalui media teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat tidak komersial dan/atau menguntungkan Pencipta atau pihak terkait, atau Pencipta tersebut menyatakan tidak keberatan atas pembuatan dan penyebarluasan tersebut.
  5. Penggandaan, Pengumuman, dan/atau Pendistribusian Potret Presiden, Wakil Presiden, mantan Presiden, mantan Wakil Presiden, Pahlawan Nasional, pimpinan lembaga negara, pimpinan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian, dan/atau kepala daerah dengan memperhatikan martabat dan kewajaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Seperti yang tercantum pada pasal 43 huruf (d) bahwa penyebarluasan konten yang mengandung hak cipta sepanjang masih melalui media teknologi informasi dan komunikasi dan bersifat non-komersial serta tidak menguntungkan bagi si pencipta bukan termasuk pelanggaran hak cipta.

Begitu pula dengan menggunakan nama artis terkenal. Menggunakan nama artis untuk kepentingan fanfiksi tanpa seizin artis tersebut atau yang bersangkutan bukan pelanggaran hak cipta asal tetap mengacu pada pembatasan hak cipta pasal 43 di atas.

Namun, jika karya fanfiksi yang telah dipublikasikan melalui media teknologi informasi tersebut diterbitkan menjadi buku dan dijual ke seluruh wilayah Indonesia maka perbuatan tersebut telah melanggar UU Hak Cipta.

Ketika suatu karya fanfiksi diterbitkan menjadi buku, maka karya tersebut sudah bersifat komersial dan akan menguntungkan pencipta dan pihak-pihak lainnya (penerbit). Jika dalam karya yang dibukukan tersebut menggunakan nama artis terkenal sebagai tokohnya tanpa seizin artis itu sendiri maupun pihak-pihak lain yang memiliki hak ciptanya, maka jelas perbuatan tersebut telah bertentangan dengan pasal 43 huruf (d).

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nama Mahluk Halus Jadi Nama Geografi

Rabu, 17 Agustus 2022 | 16:18 WIB

Sudah Menjaga Pola Makan, Kenapa Masih Sering Sakit?

Selasa, 16 Agustus 2022 | 21:15 WIB

Raden Dewi Sartika di Cicalengka (1894-1902)

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:33 WIB

Nama Geografi Menjadi Istilah Geomorfologi Khas Sunda

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:55 WIB

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X