Mencegah Islamofobia, Quo Vadis Kampus Merdeka?

- Jumat, 6 Mei 2022 | 21:29 WIB
Ilustrasi wanita Muslim. Hari-hari menjelang Idul Fitri 1443 H lalu, dunia Pendidikan digaduhkan oleh tulisan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK). (Pixabay/senjakelabu29)
Ilustrasi wanita Muslim. Hari-hari menjelang Idul Fitri 1443 H lalu, dunia Pendidikan digaduhkan oleh tulisan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK). (Pixabay/senjakelabu29)

Hari-hari menjelang Idul Fitri 1443 H lalu, dunia Pendidikan digaduhkan oleh tulisan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK).

Tulisan sang rektor di media sosial banyak dituding netizen berbau rasis. Alasannya, terdapat narasi “wanita menutup kepala ala manusia gurun”, atau penggunaan kata yang bernada sinisme, seperti dalam kalimat “Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: Insyaallah, Barakallah, syiar, Qadarullah….

Sontak, berbagai respons dari masyarakat hingga pejabat memberikan kritikan dan menyayangkan tulisan sang rektor ini.

Meski tidak mewakili suara institusi, tetap saja, sebagai pemimpin perguruan tinggi negeri, nampaknya sulit untuk memisahkan antara suara pribadi dengan jabatan sebagai orang nomor satu di institusi tersebut.

Kampus memiliki otonomi unik dalam bidang pendidikan. Dosen memiliki kebebasan mimbar akademik. Kebebasan tersebut tentunya tidak boleh bertentangan dengan norma dan etika akademik. Sivitas akademika kampus, baik dari kalangan dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa memegang norma dan etika akademik dalam kehidupan kampus.

Diharapkan, keluhuran nilai-nilai akademik dapat diraih dan tujuan pendidikan nasional yang berupaya mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat tercapai. Untuk memperkuat hal tersebut, Mas Menteri Nadiem Makarim meluncurkan kebijakan Kampus Merdeka. Ia mengharapkan kampus dapat mengakselerasi mutu para lulusannya.

Baca Juga: Penduduk Cicalengka Tahun 1845 dan 1867

Target sukses kebijakan Kampus Merdeka ini diturunkan dalam delapan Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, yaitu: (1). Lulusan mendapat pekerjaan yang layak; (2) Mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus; (3) Dosen berkegiatan di luar kampus; (4) Praktisi mengajar di dalam kampus; (5). Hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat; (6) Program studi bekerjasama dengan mitra kelas dunia; (7) Kelas kolaboratif dan partisipatif; (8) Program studi berstandar internasional. Delapan IKU ini tidak dapat tercapai kecuali seluruh sivitas akademika bahu-membahu, berkolaborasi dan mencurahkan segenap kemampuan dalam mencapai target tersebut yang penyatuan potensi ini dikelola oleh rektor yang bijaksana, akuntabel dan fokus. Bijaksana adalah sikap tertinggi seseorang dari pencapaian ilmu. Sikap tersebut harus dimilik oleh pemimpin tertinggi universitas.    

Apa yang terjadi di kampus ITK seolah menjadi preseden buruk. Alih-alih menciptakan situasi kondusif, khususnya saat bulan suci, dan menciptakan support system yang memadai guna merespon tantangan Kampus Merdeka-nya Mas Nadiem, merealisasikan delapan IKU, sang rektor justru mengkristalkan pembelahan masyarakat. Diksi “manusia gurun” sangat dekat dengan makna “kadrun”, label bagi kalangan masyarakat yang kritis terhadap pemerintah. Sementara masyarakat pro pemerintah disebut “cebong”.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inflasi dan Pasar Saham Indonesia

Rabu, 6 Juli 2022 | 12:41 WIB

Kerbau di Cicalengka Tahun 1880-1900

Minggu, 3 Juli 2022 | 19:36 WIB

Menengok Alasan Seseorang Tetap Melajang

Jumat, 1 Juli 2022 | 15:53 WIB

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB
X