Meraih Kemenangan Sejati

- Minggu, 1 Mei 2022 | 09:18 WIB
Peningkatan volume kendaraan mudik Lebaran Idulfitri 2022 di Jalur Nagreg (Ayobandung.com/Kavin Faza)
Peningkatan volume kendaraan mudik Lebaran Idulfitri 2022 di Jalur Nagreg (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Mahalnya ongkos dari tarif biasanya, rela antri panjang dari subuh demi mendapatkan tiket (kereta api, kapal laut), berebut, berdesakan, hingga berdiri di angkutan umum tak menjadi halangan untuk tetap mudik ke kampung halaman.

Mentradisinya silaturahim, saling maaf-memaafkan, memberi makanan dan hahal bihahal pasca Lebaran menjadi petanda dari orang-orang yang beradab dengan keimanan yang kukuh.  

Pasalnya, semua urusan keduniawian dapat dicari, tetapi persoalan akhirat tak bisa dibeli. Semuanya demi memohon maaf kepada orang tua dan saudara, sekaligus menjaga tali silaturahmi dengan handai tolan.

Mengakarnya tradisi mudik telah diteliti secara detail oleh Andre Moller selama tiga tahun di kota Yogyakarta dan Blora, Jawa Tenga ihwal bulan Ramadhan dengan ritus-ritusnya di Jawa. Hasilnya menunjukan pulang ke udik melibatkan seluruh lapisan (perkotaan) masyarakat muslim. Uniknya, pemerintah selalu mempersiapkan jumlah kendaraan yang banyak untuk angkutan umum selama waktu mudik ini.

Baca Juga: Menanti Gagasan Baru Macron dalam Menyelesaikan Perang di Ukraina

Memang ada dua alasan orang Indonesia “menikmati” mudik; Pertama, Kerinduan untuk bertemu dengan orang tua, kerabat, teman sekaligus meminta mereka untuk saling bermaaf-maafan, membebaskan dosa. Kedua, Status sosial dengan cara pamer kekayaan dibandingkan dengan mereka  yang tidak bekerja merantau. Keberhasilan orang yang telah bekerja keras selama setahun di ibu kota dapat dilihat dari pemberian hadiah (oleh-oleh) pada saat mudik. Aktivitas membagi-bagikan uang menjadi pemandangan yang lazim. (Andre Moller, 2005: 322-324)

Sejatinya, kehadiran Idul Fitri harus menjadi momentum awal untuk meraih kemenangan atas segala bentuk peperangan melawan hawa nafsu, keinginan, sekaligus merayakan kegembiraan di tengah-tengah kesedihan yang mendera bangsa Indonesia dari perilaku lalim (korupsi, kolusi) yang mendarah daging ini.

Kembali ke Asal

Dalam khazanah keislaman Indonesia, hari raya Idul Fitri merupakan puncak pengalaman hidup sosial keagamaan rakyat Indonesia. Seluruh kegiatan rakyat selama satu tahun diarahkan untuk dapat merayakan hari kemenang itu dengan sebaik-baiknya. Kendati umat Islam justru harus giat bekerja karena angka kebutuhan hidup semakin meningkat dan rajin menabung (sebelumnya) supaya menikmati indahnya Lebaran bersama keluarga di kampung halaman.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X