Menanti Gagasan Baru Macron dalam Menyelesaikan Perang di Ukraina

- Minggu, 1 Mei 2022 | 08:44 WIB
Ukraina akan menjadi ladang pembantaian dan perekonomian dunia melemah apabila Presiden Volodymyr Zelensky tidak bersedia kembali berunding dengan Rusia. (Flickr/Jeso Carneiro/Lisensi CC)
Ukraina akan menjadi ladang pembantaian dan perekonomian dunia melemah apabila Presiden Volodymyr Zelensky tidak bersedia kembali berunding dengan Rusia. (Flickr/Jeso Carneiro/Lisensi CC)

Ukraina akan menjadi ladang pembantaian dan perekonomian dunia melemah apabila Presiden Volodymyr Zelensky tidak bersedia kembali berunding dengan Rusia.

Di penghujung Maret, pasukan Rusia tiba-tiba menarik diri, padahal posisinya sudah 35 km dari Kiev, ibukota Ukraina. Pers Barat menyatakan penarikan itu disebabkan tentara Ukraina memberi perlawanan sengit. Rusia juga menghadapi kesulitan logistik.  

Ternyata Rusia memindahkan pasukannya ke Ukraina Timur dan Selatan untuk mengkonsentrasikan kekuatan merebut kota pelabuhan Muriopol dan sekitarnya. Pada 21 April, jatuh ke tangan Rusia.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Rusia tidak sungguh-sungguh untuk menduduki Kiev, melainkan melakukan penjeraan. Sebagai gantinya, secara sporadis meluncurkan peluru kendali untuk sasaran tertentu dengan bantuan satelit atau penanda yang dipasang pasukan khusus. 

Konsentrasi pasukan Rusia di Ukraina Timur maupun Selatan memperlihatkan Moskow bermaksud membangun wilayah penyangga dan mengamankan akses ke laut Hitam. Bukan menguasai Ukraina secara keseluruhan atau mengembalikan kejayaan Uni Soviet.

Sengaja Dibuat Berlarut

Perkembangan  di atas mulai bersifat baku, tapi perang bakal berlarut karena Amerika Serikat, Inggris, Australia dan lainnya terus menyokong Ukraina dengan peralatan serta penasehat militer. Negara-negara di luar Eropa ini punya maksud lain.

 Jerman, yang diprotes Ukraina karena Cuma memberi helm, tertunda memberi bantuan tank Marder karena pelurunya buatan Swiss, yang menyatakan bersikap netral dalam perang ini. Adapun Prancis sepakat mengirim meriam altileri Caesar dan rudal antitank Milan.

Perang antara Ukraina dengan Russia secara global menyebabkan kenaikan minyak bumi, bahan pangan dan inflasi. Mempengaruhi hubungan politik, ekonomi, keuangan dan penanaman modal. Menurunkan kualitas sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB

Curug Pelangi, Seindah Namanya

Senin, 25 Juli 2022 | 15:20 WIB
X