Arogansi AS Membuat G-20 Lemah

- Minggu, 24 April 2022 | 17:11 WIB
Pertemuan G-20 pada tahun 2019. George Bush pada 2009 dengan kekuasaannya mengubah pertemuan tahunan menteri keuangan dan gubernur-gubernur bank sentral dunia menjadi G-20. (Wikimedia Commons/Alan Santos/Lisensi CC)
Pertemuan G-20 pada tahun 2019. George Bush pada 2009 dengan kekuasaannya mengubah pertemuan tahunan menteri keuangan dan gubernur-gubernur bank sentral dunia menjadi G-20. (Wikimedia Commons/Alan Santos/Lisensi CC)

Presiden George Bush pada 2009 dengan kekuasaannya mengubah pertemuan tahunan menteri keuangan dan gubernur-gubernur bank sentral dunia menjadi pertemuan G-20.

Motifnya, memperbaiki perekonomian dunia akibat kebangkrutan Lehman Brothers Holding Incorporation (LBHI) pada 15 September 2008.

LBHI adalah bank investasi di AS yang menawarkan subprime mortgage (hipotik) atau kredit jangka panjang antara lain untuk membeli rumah (KPR). Peminjam cukup menjaminkan rumah yang dibelinya kepada LBHI.

LBHI kemudian membuat kredit itu menjadi produk derivative yang diperdagangkan di pasar global. Lantaran LBHI dipercaya maka produknya laris disergap lembaga pemerintah, swasta maupun perorangan.

Di saat yang bersamaan The Fed atau Bank Sentral AS empat kali menaikan sukubunga acuan hingga mencapai 5,25 persen. Peminjam kalang kabut karena terbiasa dengan sukubunga rendah. Tambahan lagi peminjam KPR itu tergolong ekonomi lemah. Mereka tak bisa bayar angsuran atau pokok utang.

Baca Juga: Menkeu Berharap Kinerja Ekonomi Dunia Meningkat Setelah KTT G-20

Pasar properti AS terpuruk. Kredit macet. Banyak produknya tak terjual karena sukubunga tinggi. Pembangunan rumah baru merosot 28 persen.

Lehman Brothers menyatakan kebangkrutan kepada The Fed. Dampaknya luar biasa karena LBHI selain telah menjual produk derivative ke mana-mana. Juga memperdagangkan sahamnya di Wall Street. Membuat kerjasama dengan perusahaan asuransi (AIG) serta bertransaksi dengan lembaga keuangan (JP Morgan Chase) serta perbankan lainnya. Semuanya terkena dampak.  

Ketika itu LBHI memiliki karyawan 25 ribu orang di seluruh dunia. Beraset US$639 miliar dan kewajiban yang harus dibayar ke pihak lain (lialibilities) sebanyak US$613 miliar. Kebangkrutan LBHI mempengaruhi dunia. Kalau dihitung, total kerugian perekonomian mencapai US$10 triliun.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hidup Jangan Kebanyakan Sambat

Selasa, 4 Oktober 2022 | 16:26 WIB

Sosiopreneur Generasi Milenial melalui Agroedupark

Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:40 WIB

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB
X