45 Tahun JANTERA, Merajut Benang Keahlian Menjadi Kain Penjelajahan

- Kamis, 21 April 2022 | 20:51 WIB
Satu dari dua peta goa yang sudah diselesaikan JANTERA, Peta Gua Sanghyangpoek di aliran Ci Tarum, dan hasilnya sudah diserahkan kepada masyarakat setempat.  (Dok. JANTERA Geografi UPI.)
Satu dari dua peta goa yang sudah diselesaikan JANTERA, Peta Gua Sanghyangpoek di aliran Ci Tarum, dan hasilnya sudah diserahkan kepada masyarakat setempat. (Dok. JANTERA Geografi UPI.)

Hal-hal sederhana yang kami pelejari saat itu, misalnya bagaimana agar nyaman, riang, dan sehat selama dalam perjalanan. Perlengkapan minimum apa yang harus dibawa saat menjelajah. Contoh hal yang sangat teknis, misalnya bagaimana agar kaki tidak lecet saat berjalan berhari-hari. Bagaimana cara mengemas ransel, cara membuat perapian, mendirikan bivak, pakaian selama dalam penjelajahan, cara memasak dan mengatur menu yang dapat menjaga tubuh tetap segar selama dalam perjalanan.

Keterampilan teknis menjelajah itulah yang paling mendesak untuk diketahui dan dikuasai, karena pengetahuan dasar yang dibutuhkan dalam penjelajahan sudah melekat dalam kurikulum Departemen Pendidikan Geografi IKIP Bandung saat itu, seperti matakuliah: Geologi, Tektonika, Geologi Ekonomi, Geomorfologi, Klimatilogi, Oseanografi, Peta dan Pemetaan, Antropologi, Sosiologi, Geografi Perkotaan, Geografi Perdesaan, Geografi Budaya, Geografi Pariwisata, Geografi Tumbuhan, Geografi Hewan, dll.

Baca Juga: Kopi dari Cicalengka Dikirim ke Gudang Karangsambung Tahun 1835-1873

Karena JANTERA merupakan organisasi pencinta alam yang berada di ceruk kampus yang dalam, maka JANTERA menjadi organisasi yang tumbuh seperti pohon cantigi di puncak gunung. Tetap tumbuh dengan indah dalam segala keterbatasan dan terpaan kabut, angin, dingin, panas, dan gas gunungapi setiap waktu. Inilah yang mematangkan para anggotanya, yang membuat mereka menjadi melebur, seolah tak ada individu-individu anggota, yang ada hanyalah mahasiswa JANTERA yang menyatu, terpatri sebagai saudara yang tak terpisahkan lagi.

JANTERA itu tidak sekedar wadah bagi para mahasiswa yang berminat untuk menjelajah, tapi lebih sebagai busur, sebagai sejata yang meluncurkan impian-impian penjelajahan.

Maka dipilihlah nama JANTERA yang berarti cakram, alat, mesin, atau alat untuk menembakkan panah, tombak, atau peluru. Karena hanya anggotanya yang terus menempa diri, yang terus bergerak, yang terus “menggasing”, merekalah yang akan mewujud sebagai anggota dengan kemampuan yang terus “membundar”, “membulat”, dan, itulah wujud pencapaian yang harus terus diperjuangkan, bagaimana agar tetap berputar.

Itulah yang membuat JANTERA bertahan selama 45 tahun. Semoga terus bergerak dinamis, agar mampu melakoni masa kini dan masa depan yang semakin kompleks, dengan kepersatan teknologi tak mungkin dapat dihindari.

Sudah menjadi kebutuhan bagi seorang JANTERA untuk menuangkan apa yang dirasakan, didengar, dilihat, dan dilakoninya itu dalam catatan perjalanan. Sudah tiga buku yang diterbitkan dalam rentang waktu 45 tahun, yaitu buku “Menembus Buana”, “Bandung Dilingkung Gunung”, buku “Meniti Cincinapi”, dan membuat peta-peta lintasan di dalam goa yang kini banyak dikunjungi wisatawan. Dua peta goa yang sudah selesai, dan hasilnya sudah diserahkan kepada masyarakat setempat. Dua goa di aliran Ci Tarum itu adalah Peta Gua Sanghyangtikoro dan Peta Gua Sanghyangpoek.

JANTERA membina dan menempa diri untuk mewujudkan menjadi manusia yang mempunyai nilai lebih dan berkarakter, yang mampu menghadapi dan menyelesaikan tantangan dengan selamat, baik secara individu, maupun secara bersama-sama.

Baca Juga: Wacana Digitalisasi Pemilu: Seberapa Siapkah Indonesia?

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB

Curug Pelangi, Seindah Namanya

Senin, 25 Juli 2022 | 15:20 WIB

Asa di Fenomena Citayam Fashion Week SCBD

Rabu, 20 Juli 2022 | 15:38 WIB

Musim Kondangan dan Fenomena Amplop Digital

Selasa, 19 Juli 2022 | 19:30 WIB

Dua Nama Geografi yang Sering Keliru Dimaknai

Selasa, 19 Juli 2022 | 15:30 WIB
X