45 Tahun JANTERA, Merajut Benang Keahlian Menjadi Kain Penjelajahan

- Kamis, 21 April 2022 | 20:51 WIB
Satu dari dua peta goa yang sudah diselesaikan JANTERA, Peta Gua Sanghyangpoek di aliran Ci Tarum, dan hasilnya sudah diserahkan kepada masyarakat setempat.  (Dok. JANTERA Geografi UPI.)
Satu dari dua peta goa yang sudah diselesaikan JANTERA, Peta Gua Sanghyangpoek di aliran Ci Tarum, dan hasilnya sudah diserahkan kepada masyarakat setempat. (Dok. JANTERA Geografi UPI.)

JANTERA itu tumbuh di lingkungan terkecil, di ceruk terdalam dari lembaga Pendidikan Tinggi.

Organisasi mahasiswa pencinta alam di Departemen Geografi IKIP Bandung, sekarang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), ini dibentuk dan dikukuhkan pada tahun 1977 di puncak Gunung Tangkubanparahu, gunung yang banyak menginspirasi warga kota Bandung.

Departemen Geografi sebelum tahun 1977 merupakan departemen yang tidak populer di kalangan siswa SMA/MA, sehingga mereka tidak memilih Geografi pada saat melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Karena peminatnya yang sedikit itulah, maka yang masuk ke Geografi mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan beasiswa.

Walau uang beasiswanya laku dibelanjakan dan enak, namun nama beasiswanya sedikit menyakitkan, “Beasiswa kering dan langka”. Bahkan pada saat perpeloncoan, para senior di Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, seperti Idrus Affandi dan Yusuf Syarif Bastaman, masih menyebut kami sebagai warga Israel.

Baca Juga: Pengalaman Pahit dan Manis di Wisata Kiara Pelangi Food Court

Pada tahun 1977, mahasiswa yang diterima lebih dari 40 orang. Jumlah yang luar biasa. Rupaya inilah yang sangat menggairahkan mereka yang membidani pendirian Departemen Geografi dan para dosen, seperti Prof Dr Soepardjo Adikoesoemo, Dr Iih Abdurrachim, Dr Sudardja Adiwikarta, Drs Moh Ma’mur Tanudidjaja - Dra Omi Kartawidja, Dr Nursid Sumaatmadja, Dr Sutjipto, Drs Ariffien Y, Drs Entus Nazmi, Marsidi, SU, Rasyid, SU, Drs. H US Hadirat, Drs SW Lontoh, Drs Akub Tisnasomantri,  Drs Misriyadi, MA, Drs Suryatna Rafi’i, Drs Idris Abdurachmat, dll.

Kegembiraan para dosen tercermin dari kegairan mereka saat mengajar dan tiada lelah saat ke lapangan. Dalam sebulan, rasanya 4 minggu itu masih kurang. Karena sering pergi ke lapangan itulah maka para mahasiswa merasa membutuhkan pengetahuan praktis tentang cara hidup di alam dengan sehat, aman, nyaman, selamat, dan menyenangkan.

Dimotori Usman Muhyiddin, ketua Warga Mahasiswa Geografi (WMG) dan aktivis mahasiswa Geografi, dan saya menjadi bagian dalam pembentukan organisasi pencinta alam ini, yang dikukuhkan di puncak Gunung Tangkubanparahu, pada April 1977. Pada dasarnya, JANTERA dibentuk dengan kesadaran penuh untuk terus selalu belajar tentang apa yang belum dikuasainya.

Belajar tentang sesuatu hal yang pada saat itu belum dimilikinya, seperti keterampilan praktis hidup di alam bebas. Bagaimana menjelajah alam dengan riang, tapi tetap siaga, cepat tanggap dalam menghadapi berbagai tantangan, hambatan, dan ancaman bahaya, yang mungkin datang tak terduga.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB
X