Sejarah Persis di Tengah Arus Pergerakan Non-Koperatif

- Rabu, 23 Februari 2022 | 15:09 WIB
Majalah At-taqwa yang diterbitkan pertama kali oleh Bidang Dakwah Persatuan Islam Bandung tahun 1936 (Istimewa)
Majalah At-taqwa yang diterbitkan pertama kali oleh Bidang Dakwah Persatuan Islam Bandung tahun 1936 (Istimewa)

Pada edisi 16 Agustus 1924, surat kabar Soerapati memberitakan seorang anggota Persis yang dituduh komunis.

Tampaknya tudingan itu serius. Almarhum yang bernama Haji Dahlan tersebut dianggap tidak melakukan tata cara ibadah umat Islam yang umum dilakukan oleh masyarakat kala itu. Selain itu, Soerapati adalah surat kabar berbahasa Sunda yang dikelola oleh kelompok merah di Bandung. Tentu saja, pemberitaan itu sangat subjektif karena bernada pembelaan dari kelompok merah terhadap salah satu anggota Persis.

Pada tahun berikutnya De locomotief 27 Januari 1925 mencatat sebuah laporan terkait pertemuan terbuka yang digelar oleh rengrengan Persatuan Islam. Acara tersebut berlangsung di gedung Bioskop Oriental Alun-Alun Bandung dengan dihadiri para pengurus Persis dan dijaga ketat oleh aparat polisi.

Konon, pertemuan itu dipicu lantaran seseorang bernama Ali Taib menulis di koran milik kalangan Tionghoa, yang berisi tuduhan kepada Persatuan Islam sebagai kelompok pembuat agama baru dan menyebarkan ajarannya ke masyarakat. Kasus yang hampir sama yang terjadi pada tahun sebelumnya. Namun kali ini melibatkan langsung seluruh  pengurus Persis.

Baca Juga: Kurikulum Merdeka Menjawab Kebutuhan Siswa

Ali Taib mengecam Persatoean Islam karena melarang slametan untuk tujuh hari kematian seseorang dan konon, mengubah bacaan salat serta ritual Islam lainnya (De locomotief 27 Januari 1925). Lagi-lagi, ini bukan tudingan biasa. Haji Zamzam dkk. mengatur rencana untuk mengadakan pertemuan sebagai upaya mengklarifikasi soal kecaman yang dilontarkan oleh Ali Taib itu.

Mula-mula pihak Persis mengirim surat undangan agar Ali Taib ikut serta dalam pertemuan tersebut. Tetapi Ali Taib yang tinggal di Surabaya, tidak mengindahkah ajakan Persis untuk menghadiri pertemuan penting tersebut. Bahkan Ali Taib mengklaim bahwa Persis mempunyai kesamaan karakter dengan kelompok komunis (De locomotief 27 Januari 1925).

Dalam pertemuan itu pihak Persis menegaskan bahwa Ali Taib telah membuat fitnah yang sangat kejam. Dengan dipimpin oleh Sabirin, para pembicara dari Persis mengklarifikasi soal-soal yang menyangkut tudingan Ali Taib, terutama mengenai larangan slametan bagi orang yang sudah mati.

Sehingga Persis memberikan jawaban untuk masalah ini yaitu, bahwa Nabi melarang memakan makanan orang yang sedang berkabung (mati) (De locomotief 27 Januari 1925). Tidak disebutkan bagaimana sikap Persis terkait ajaran komunis bersamaan dengan tudingan yang tertulis dalam koran Perniagaan itu. Tetapi perlu kiranya untuk ditelusuri bagaimana hubungan para anggota Persis dengan kelompok merah di Bandung di tahun 1920-an.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB

Kompi Artileri ke-19 di Nagreg sejak 1905

Minggu, 11 September 2022 | 14:19 WIB

Pelangi Ratu Elizabeth II dalam Paririmbon Sunda

Minggu, 11 September 2022 | 07:00 WIB

Perihal RUU Sisdiknas dan Kesejahteraan Guru

Minggu, 11 September 2022 | 06:00 WIB

KurMer dalam Falsafah Jawa: Mamayu Hayuning Bawana

Jumat, 9 September 2022 | 16:25 WIB

Raja Surakarta Kunjungi Hotel Isola

Jumat, 9 September 2022 | 15:44 WIB

Cinambo Semula Berupa Dasar Sungai

Kamis, 8 September 2022 | 21:32 WIB

Galang Rambu Anarki, BBM, dan Regsosek

Rabu, 7 September 2022 | 16:01 WIB
X