Di Ende, Ruang-Ruang Terbentuk atas Sejarah

- Rabu, 2 Februari 2022 | 13:38 WIB
Kota Ende Tahun 1930-an. (Wikimedia Commons (Lisensi CC))
Kota Ende Tahun 1930-an. (Wikimedia Commons (Lisensi CC))

Desember di Ende adalah bulan yang dingin dan berangin. Di sini begitu terasing dari sejarah bangsa seperti konstruksi yang telanjur terbangun di dalam kepala saya.

Pada sebuah malam, saya dan tim tiba di Ende. Kami berangkat dari kota tetangga, Maumere, kemudian singgah sebentar di Desa Adat Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende.

Kondisi jalan dari Kota Maumere ke Ende berkelok-kelok, membuat saya lebih memilih untuk tidur sepanjang perjalanan daripada mabuk darat.

Jika datang melalui jalan udara, tidak perlu khawatir untuk hal satu itu. Selama pandemi Covid-19 berlangsung, tidak ada penerbangan langsung ke Ende dengan durasi waktu satu hari. Dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Denpasar, penumpang harus menginap dulu semalam di Kupang atau Labuanbajo.

Sebetulnya, pengalaman melewati perkebunan, perbukitan, dan menembus kabut selama perjalanan antarkota terlalu sayang untuk dilewatkan. Misalnya saja, keluar dari Desa Adat Nggela, mobil kami yang merupakan mobil kota berkolong rendah sempat selip di bebatuan. Butuh waktu cukup lama serta upaya yang menegangkan untuk menyelamatkannya. Jalanan di sekitar Nggela-Wolowaru sebagian besar memang tersusun atas batu-batu besar yang tidak solid.

Hujan yang menyambut kami di Ende ternyata sudah turun sejak sore. Kami menunggu kabar tentang penginapan di sebuah kafe perempatan jalan yang menyediakan makanan Italia, Amerika, hingga lokal. Kafe-kafe model ini menurut kawan saya banyak tersebar, tetapi malam itu, banyak yang tutup karena beberapa ruas jalan terkena banjir ringan.

Baca Juga: Giat Pembelajaran Sejarah

Penginapan di Kota Ende bisa dipesan melalui aplikasi online travel agent. Harganya berkisar antara sekitar dua ratus ribu hingga satu juta rupiah. Homestay Reyna, yang kami tempati malam itu dipesan langsung dengan cara menghubungi pemiliknya. Tempat itu tergolong murah dengan suasana lingkungan yang sepi, bersih, dan nyaman.

Keesokan harinya, kami bersiap sejak pagi buta. Hujan baru reda dinihari. Kami hanya bisa berharap jalan-jalan sudah pulih dari banjir dan tempat-tempat tujuan buka seperti biasa. Sebelum tiba di Ende, pikiran saya telah mengkonstruksi ruang-ruang di kota itu sebagai petunjuk terhadap cara sejarah mengawetkan dirinya, di tengah lintasan waktu, di tengah pandemi.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sudah Menjaga Pola Makan, Kenapa Masih Sering Sakit?

Selasa, 16 Agustus 2022 | 21:15 WIB

Raden Dewi Sartika di Cicalengka (1894-1902)

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:33 WIB

Nama Geografi Menjadi Istilah Geomorfologi Khas Sunda

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:55 WIB

Wisata dari Titik Nol Bandung

Senin, 8 Agustus 2022 | 20:11 WIB

Penempatan Siswa di Kelas berdasar Gaya Belajar

Senin, 8 Agustus 2022 | 19:45 WIB

Paypal Diblokir, Bagaimana Nasib para Freelancer?

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:19 WIB

Mari Kita Sukseskan Desa Cantik

Jumat, 5 Agustus 2022 | 09:51 WIB

Citayeum, Citayem, dan Citayam

Kamis, 4 Agustus 2022 | 16:50 WIB
X