Risalah Tionghoa yang Terlupakan

- Selasa, 1 Februari 2022 | 08:00 WIB
Minoritas Tionghoa sering dianggap berkecimpung semata dalam ekonomi, dan bukan aktivitas mereka dalam bidang politik, sastra, pers. (Ayobandung.com/Kavin Faza)
Minoritas Tionghoa sering dianggap berkecimpung semata dalam ekonomi, dan bukan aktivitas mereka dalam bidang politik, sastra, pers. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Selama ini, minoritas Tionghoa di Indonesia sering dianggap sebagai sebuah kelompok etnis yang berkecimpung semata-mata dalam bidang ekonomi, sehingga kurang perhatian orang terhadap aktivitas mereka dalam bidang politik, sastra, pers. Apalagi ihwal kebudayaan sering diabaikan.

Memang kelompok minoritas keturunan Tionghok ini mempunyai ciri-ciri khas tersendiri, karena proses interaksi dengan kelompok lain, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, telah mengalami perubahan yang sangat berarti. Proses yang sering disebut akulturasi (adaptasi) ini telah menimbulkan kebudayaan golongan Tionghoa yang khas dan mulai makin berakar di bumi pertiwi ini.

Padahal sebetulnya proses ini tidak terbatas pada kelompok etnis Tionghoa saja, tetapi mencakup semua kelompok di Nusantara. Semua kelompok sering mempengaruhi satu sama lain dan memperkaya kebudayaan masing-masing. Akan tetapi golongan etnis China sebagai minoritas keturunan asing yang tersebar di mana-mana, mengalami perubahan yang jauh lebih besar daripada kelompok-kelompok pribumi yang mempunyai daerah tersendiri. (Leo Suryadinata, 1988:vii-viii)

Jejak Tionghoa

Dalam percaturan ideologi, agama, ekonomi internasional, memiliki kekuatan yang diwakili oleh Konfusianisme ini juga berkiprah pada kehidupan nasional Indonesia. Rangkaian semacam inilah keberadaan etnis Tiongkok sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia tak bisa dibantahkan lagi. Meningat golongan etnis Tionghoa ini harus pula diakui hak-haknya dalam memelihara dan menghidupi warisan budaya serta kehidupan kerohaniaan mereka. Sebab itu tidak mungkin untuk mengecilkan (menganggap) seolah-olah tidak memahami kenyataan ini. (Th Sumartana, dkk, 1995:xvi)

Ingat, bangsa Indonesia dalam kesejarahannya berkaitan erat dengan keberadaan kelompok Tionghoa, baik pada masa kerajaan, penjejahan, orde lama, orde baru, maupun pada masa pasca orde baru. Keberadaan kelompok Tionghoa dalam ranah kesejarahan Indonesia, dikenal sejak masa Sriwijaya mulai runtuh akibat serbuan Singasari.

Baca Juga: Asem-Asem Daging: Sajian Berkuah Khas Demak dari Tradisi Dapur Peranakan Tionghoa

Sriwijaya mengirim utusan beberapa kali ke Tiongkok sejak tahun 960 sampai dengan tahun 988. Utusan yang terkahir menetap di Kanton selama dua tahun karena Sriwijaya diserang oleh tentara dari Cho-p'o. Pada tahun 992 utusan terakhir berlayar kembali, namun hanya sampai di negeri Campa, dan meminta pemerintah Tiongkok agar membuat pernyataan bahwa Sriwijaya berada dalam perlindungan Tiongkok.

Ketika Sriwijaya runtuh dan pemerintah sedang kacau, kelompok Tionghoa yang mencapai ribuan berinisiatif untuk melakukan pemerintah sendiri, karena kekacauan Palembang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kelompok pemerintah etnis Tionghoa di Palembang ini memiliki ketertarikan langsung dengan Kaisar Tinghok.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nama Bangunan yang Menjadi Nama Desa dan Kelurahan

Rabu, 5 Oktober 2022 | 16:41 WIB

Hidup Jangan Kebanyakan Sambat

Selasa, 4 Oktober 2022 | 16:26 WIB

Sosiopreneur Generasi Milenial melalui Agroedupark

Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:40 WIB

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB
X