Sejarah Bir Pletok: Minuman Tradisional Khas Betawi, Adaptasi Wine Tanpa Alkohol

- Rabu, 26 Januari 2022 | 15:18 WIB
Sejarah bir pletok tidak bisa dilepaskan dari kehadiran orang-orang Belanda pada masa kolonial. Ini adalah adaptasi wine khas tradisional Betawi. (Badiatul Muchlisin Asti)
Sejarah bir pletok tidak bisa dilepaskan dari kehadiran orang-orang Belanda pada masa kolonial. Ini adalah adaptasi wine khas tradisional Betawi. (Badiatul Muchlisin Asti)

Eksistensi sejarah bir pletok tidak bisa dilepaskan dari kehadiran orang-orang Belanda pada masa kolonial. Adaptasi wine khas tradisional Betawi.

Betawi sejak lama dikenal sebagai etnis yang memiliki khazanah kuliner khas yang digemari masyarakat seperti soto betawi, soto tangkar, pecak gurame, gado-gado, asinan, sayur asem, nasi uduk, nasi kebuli, gabus pucung, dan lain sebagainya.

Selain itu, Betawi juga memiliki ragam minuman tradisional khas bercita rasa tinggi, antara lain es selendang mayang (bendrong), kopi jahe, es doger, es teler, dan yang paling populer dan ikonik adalah bir pletok.

Boleh dibilang, bir pletok adalah minuman tradisional khas Betawi yang sangat masyhur. Walaupun namanya terdapat kata “bir”, namun di dalam bir pletok sama sekali tidak ada kandungan alkohol. Bir pletok terbuat dari ekstrak rempah seperti jahe, kayu secang, daun pandan, serai, kayu manis, lada, pala, dan lainnya.

Kilas sejarah bir pletok

Eksistensi sejarah bir pletok tidak bisa dilepaskan dari kehadiran orang-orang Belanda pada masa kolonial. Orang-orang Belanda datang ke Indonesia untuk menjajah. Mereka datang sekaligus juga membawa budaya mereka, di antaranya kebiasaan minum bir atau wine saat berpesta.

Orang-orang Betawi yang beragama Islam dan sangat lekat dengan budaya Islam, tidak senang dengan kehadiran orang-orang Belanda. Juga tidak suka dengan kebiasaan minum bir yang diharamkan dalam agama Islam. 

Baca Juga: Jangan Ngaku Bestie Kalau Masih Suka Nyinyir

Orang-orang Betawi lalu berinisiatif dan berkreasi membuat minuman mirip bir sebagai budaya tandingan (counter culture). Akhirnya, terciptalan ramuan yang diformulasi dari ekstrak rempah yang kemudian populer dengan sebutan ‘bir pletok’.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB

Penduduk Cicalengka Tahun 1845 dan 1867

Jumat, 6 Mei 2022 | 19:10 WIB
X