Kendaraan Listrik Mengatasi Masalah Polusi Udara di Indonesia

- Selasa, 18 Januari 2022 | 12:45 WIB
Namun, disayangkan harga jual dari kendaraan listrik di Indonesia masih sangat mahal, sehingga hanya dapat dijangkau masyarakat kalangan atas. (Pixabay/Painter06)
Namun, disayangkan harga jual dari kendaraan listrik di Indonesia masih sangat mahal, sehingga hanya dapat dijangkau masyarakat kalangan atas. (Pixabay/Painter06)

Namun, disayangkan harga jual dari kendaraan listrik di Indonesia masih sangat mahal, sehingga hanya dapat dijangkau masyarakat kalangan atas.

Penggunaan kendaraan bermotor di Indonesia semakin hari kian mengkhawatirkan, pasalnya hampir setiap rumah tangga dan tempat usaha di Indonesia setidaknya memiliki satu kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil. Maraknya penggunaan kendaraan bermotor di Indonesia juga disebabkan oleh terjangkaunya harga DP motor atau mobil yang ditawarkan para produsen kendaraan bermotor, hal ini mengakibatkan jumlah pengguna kendaraan bermotor di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2019, jumlah seluruh kendaraan di Indonesia berjumlah kurang lebih 133 juta unit, dan di tahun ini diperkirakan meningkat jumlahnya sekitar 5 persen (Badan Pusat Statistik, 2019). Penggunaan kendaraan bermotor yang berbahan bakar minyak ini menyebabkan berbagai masalah lingkungan, seperti, kelangkaan minyak bumi, polusi udara, polusi suara, pemanasan global, dan masih banyak lagi.

Maka dari itu, saat ini pemerintah sedang mengusahakan yang terbaik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan berbagai cara yang tentunya dilakukan secara bertahap, misalnya pada saat ini, pemerintah sedang menggalakkan uji emisi kendaraan bermotor dan melakukan penilangan kepada kendaraan yang memiliki knalpot tidak standar yang bertujuan untuk mengurangi polusi udara dan polusi suara (kebisingan) yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor. Salah satu solusi lain yang dapat dibilang cukup efektif adalah penggunaan kendaraan yang berbahan bakar listrik.

Kendaraan listrik tentunya tidak lagi menggunakan knalpot sebagai sarana untuk pembuangan sisa gas dan tidak bersuara bising seperti kendaraan bermesin konvensional. Hal tersebut merupakan aspek yang membuat kendaraan listrik lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kendaraan bermotor.

Baca Juga: Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Namun, dalam wacana peralihan penggunaan kendaraan listrik dari kendaraan bermesin konvensional, masih banyak pro dan kontra yang terjadi di masyarakat Indonesia. Salah satu kontra yang cukup sering dilontarkan adalah mahalnya harga kendaraan listrik dibandingkan harga kendaraan bermesin konvensional di Indonesia. Di Indonesia sendiri, peredaran kendaraan listrik memang masih jarang kita lihat di jalan raya, bahkan di daerah Ibukota Jakarta. Dilansir dari laman resmi Hyundai Indonesia, mobil listrik buatan Hyundai termurah yang dijual di Indonesia dimulai dari harga 637 juta rupiah di akhir tahun 2021 ini, yaitu Hyundai IONIQ Electric. Untuk peredaran motor listrik, baik beroda dua maupun beroda tiga, masih banyak kendaraan yang belum jelas regulasinya untuk dikendarakan bebas di jalan raya. Terdapat satu motor listrik buatan Indonesia yang sudah mendapat izin untuk dikendarakan di jalan raya bernama Gesits, namun harga motor Gesits ini juga termasuk cukup tinggi, yakni mulai dari 27 juta rupiah. Tetapi, perlu diingat bahwa terdapat faktor lain di mana kendaraan listrik lebih unggul dibandingkan kendaraan bermesin konvensional, yaitu ada pada perawatan. Biaya perawatan kendaraan listrik umumnya lebih murah dibanding perawatan kendaraan bermesin konvensional. Kendaraan listrik tidak menggunakan tenaga mesin, melainkan hanya menggunakan baterai sebagai sumber utama penggerak kendaraan, sehingga terdapat beberapa bagian yang tidak perlu diganti saat melakukan servis, seperti oli mesin, air radiator, busi, dan beberapa bagian yang tidak dimiliki kendaraan listrik lainnya.

Persoalan berikutnya ada pada pengisian bahan bakar. Seperti yang dapat diketahui bahwa kendaraan listrik membutuhkan waktu yang lama untuk mengisi daya, tidak seperti kendaraan bermesin konvensional yang dapat mengisi bahan bakar menggunakan bensin hanya dalam hitungan detik. Namun, perlu diperhatikan, biaya bahan bakar yang dikeluarkan untuk kendaraan listrik tentunya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli bensin. Dilansir dari channel YouTube Fitra Eri, ia melakukan tes bahan bakar pada mobil Hyundai Kona Electric miliknya yang berkapasitas 39,2 kWh. Setelah melakukan tes perjalanan dalam sekali pengisian daya, ia mendapatkan jarak 380 an kilometer. Jika dihitung menurut tarif listrik PLN, tarif listrik per kWh untuk daya 6600 VA ke atas adalah Rp 1.444,70. Jadi untuk berjalan sekitar 380 an kilometer, Fitra hanya perlu membayar sekitar Rp 57.000,-. Selain keuntungan dalam biaya bahan bakar, pengguna mobil listrik juga terbebas dari peraturan ganjil genap di daerah DKI Jakarta, hal ini mengacu pada Pergub DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2019 tentang ganjil genap.  

Baca Juga: Kisah Dominique Roderick Berretty, Putra Tunggal Pemilik Villa Isola

Terlepas dari perdebatan soal teknis seperti di atas, masih banyak juga yang menilai bahwa kendaraan listrik tidak terlalu efektif karena seperti yang diketahui bahwa sumber listrik di Indonesia sekitar 61 persen masih berasal dari batu bara (IDXChannel, 2021). Memang sangat sulit untuk menemukan cara menghasilkan bahan bakar apapun dengan maksimal tanpa menimbulkan polusi. Jika dibandingkan dengan bahan bakar listrik oleh batu bara, minyak bumi dalam pengolahannya dan pengaplikasiannya lebih menimbulkan polusi udara yang lebih dahsyat. Dapat diuraikan sebagai berikut, penyedotan minyak bumi di tengah laut tentunya akan menimbulkan polusi udara dan polusi suara yang disebabkan alat-alat berat yang digunakan, tetapi hal ini masih belum menjadi masalah utama karena polusi udara yang terjadi letaknya jauh di tengah laut. Kemudian, untuk mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar minyak diperlukan beberapa proses yang juga akan menimbulkan polusi udara. Tidak sampai disitu, pendistribusian ke SPBU di seluruh Indonesia memerlukan armada berupa truk tangki minyak yang mengeluarkan asap yang cenderung lebih memperburuk polusi udara karena menggunakan solar. Setelah itu, bahan bakar minyak ini akan digunakan pada kendaraan bermesin konvensional yang dalam penggunaannya pun akan membuang gas sisa berupa karbon monoksida (CO), sehingga akan memperburuk kualitas udara di perkotaan di seluruh Indonesia.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB

Penduduk Cicalengka Tahun 1845 dan 1867

Jumat, 6 Mei 2022 | 19:10 WIB
X