Geotrek Lintas Kars Citatah

- Jumat, 14 Januari 2022 | 15:01 WIB
Geotrek Lintas Kars Citatah melalui satu titik pengamatan, yaitu Karangpanganten, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.  (Dok. MataBumi.)
Geotrek Lintas Kars Citatah melalui satu titik pengamatan, yaitu Karangpanganten, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. (Dok. MataBumi.)

Pada tanggal 15 Januari 2022, komunitas MataBumi akan kembali menyelenggarakan Geotrek Lintas Kars Citatah, Bandung Barat.

Kerinduan warga perkotaan untuk melebur kembali dengan alam semakin menjadi-jadi. Salah satu indikatornya, daya tarik wisata alam selalu banyak dikunjungi oleh para wisatawan.

Sayangnya, oleh para pengelola dan para pemilik modal, gairah kembali ke alam itu ditanggapi dengan keliru.

Dikiranya warga kota yang sudah jenuh, bahkan merasa terasing di kotanya itu, ingin mendapatkan suasana metropolitan saat berada di alam. Akibatnya, suasana asri pedesaan, suasana asri arena perkemahan, kenyamanan di perbukitan, keheningan di dalam hutan, lalu disulap menjadi penuh pendukung kegiatan wisata yang kebangetan, padahal sesungguhnya fasilitas pendukung itu tidak perlu-perlu banget.

Hutan yang berada di pinggir kota, yang semula hening, setiap pagi tupai berlari-lari mencakar-cakat batang pohon, anak-anak mengendap-endap dalam diam mengamati bagai perilaku tupai, yang berlari begitu cepat bila ada hal yang mencurigakan. Suasana itulah yang dicari warga kota yang sudah kegerahan dengan pembangunan kota yang dibuat seragam. Kini, di dalam kawasan hutan itu sudah berubah menjadi seperti pasar, kios dan jongko sengaja dimasukan ke dalam kawasan hutan. Suasana yang hening berubah menjadi hingar-bingar. Padahal, suasana seperti itu, di terminal dan di pasar pun sudah ada. 

Baca Juga: Kesebelasan Tamba Oerat Moeroengkoet (TOM) dari Pangalengan

Alternatif berwisata di alam melalui geotrek, sudah dan terus dipraktekkan sejak tahun 2000. Berwisata melalui geotrek ini merupakan alternatif penyelenggaraan wisata berbasis pemanfaatan sumberdaya alam secara aman dan lestari. Daya tarik situsnya itulah yang seharus dilindungi, bukan malah dirusak dengan cara menutupinya dengan beragam bangunan. Hal ini dapat disaksikan di berbagai tempat wisata alam. Ketika pantainya dipromosikan sebagai daya tarik, justru malah pantai itulah yang ditutupi bangunan.   

Melalui geotrek ditempuh langkah-langkah untuk memperkenalkan keragaman bumi, keragaman hayati, dan keragaman budaya kepada para pelajar, komunitas, dan masyarakat umum. Keragaman itulah yang menjadi unggulan dalam kegiatan geotrek. Dengan dimanfaatkannya situs-situs tersebut untuk pembelajaran, maka akan tumbuh kepedulian, bahwa situs itu mempunyai nilai yang sangat penting. Karena setiap situs mempunyai nilai keindahan, nilai ilmu pengetahuan, dan nilai kebudayaan.

Dalam geotrek itu sudah direncanakan, dan ditentukan dengan pasti, ke mana lintasan yang akan di lalui, karena dalam lintasan tersebut terdapat situs-situs yang menarik ronabuminya, dan terdapat ilmu pengetahuan. Dalam geotrek itu bukan hanya menafsir bebatuan, namun penafsiran berlangsung menyeluruh, terpadu, bahwa gejala kebumian itu menjadi rumah bagi tumbuhan, hewan, dan manusia dengan budayanya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menengok Alasan Seseorang Tetap Melajang

Jumat, 1 Juli 2022 | 15:53 WIB

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB
X