Adopsi Spirit Doll: Antara Tren, Sugesti, dan Delusi

- Kamis, 13 Januari 2022 | 14:53 WIB
Fenomena adopsi Spirit Doll atau boneka arwah semakin marak di tengah masyarakat, dengan adopsi boneka arwah menjadi trend dikalangan artis. (Pixabay/CJ)
Fenomena adopsi Spirit Doll atau boneka arwah semakin marak di tengah masyarakat, dengan adopsi boneka arwah menjadi trend dikalangan artis. (Pixabay/CJ)
Fenomena adopsi spirit Doll atau boneka arwah semakin marak ditengah masyarakat, terlebih adopsi boneka arwah menjadi tren dikalangan artis yang merupakan publik figur.
 
Bagi para adopter, spirit Doll dapat memberikan ketenangan batin. Bukan hanya itu, spirit Doll diyakini dapat memberikan aura positif untuk kelancaran rezeki adopternya. Sehingga ini bisa dikatakan, lebih dari sekedar tren.
 
Dari beberapa penelusuran, sebelum spirit Doll sampai ke adofter, boneka dengan bentuk balita tersebut, dimasuki arwah bayi. Dan menjadi syarat bagi para adopter untuk memperlakuan  boneka arwah tersebut layaknya memperlakukan  manusia. Ketika spirit Doll diperlakukan sama halnya dengan manusia balita, maka hal yang berkaitan dengan perawatan balita seperti memberi makan, minum, memandikan dan  seterusnya, tentu akan dilakukan.
 
Terlepas kita semua tidak pernah menyaksikan bagaimana proses  makanan dan minuman masuk ke boneka arwah tersebut. Lebih jauh dari itu, beberapa maskapai penerbangan sengaja menyiapkan seat untuk spirit Doll. Dari sisi ini, spirit Dolll  sudah dapat masuk keruang batin dan sosiologi manusia, sampai menjadi pemakluman umum. 
 
 
Sebenarnya sugesti semacam itu, sudah dikenal jauh sebelumnya di Thailand. Kepercayaan dari sebagian masyarakat Thailand, meyakini boneka arwah atau Luk Thep (mereka menyebutnya) adalah anak dewa yang membawa magnet keberuntungan pemiliknya. Di Thailand banyak kita jumpai kolektor Luk Thep dengan ragam ukuran dan bentuknya. Baru belakangan spirit Doll di populerkan oleh seorang artis di Indonesia.
 
Dari itu, spirit Doll telah masuk ruang dimensi spiritual, sugesti dan nilai sebuah peradaban. 
Dimensi spiritual merupakan hal naluriah yang diciptakan ada pada setiap manusia, penampakan dimensi ini, lebih kepada rasa yang menuntut pemenuhan. Adanya perasaan lemah dan pengagungan terhadap sesuatu pada manusia, ini dipenuhi dengan penghambaan seseorang kepada sesuatu yang dianggap suci dan agung.
 
Begitu pun adanya ketertarikan terhadap lawan jenis, munculnya rasa kasih sayang dan memiliki rasa kebanggaan serta  amarah. Semua hal inherent tersebut, ada pada  manusia, tinggal nanti dilihat bagaimana pemenuhan naluri perasaan tersebut, sampai kepada sesuatu yang benar, dengan standar keyakinan tertentu.
 
 
Sosiologi histori keagamaan menunjukan kepada kita, bahwa penyaluran naluri pensucian ( penyembahan) kepada benda ataupun angin merupakan masa lalu yang sudah terkubur dan tergantikan dengan pensucian yang mengedepankan aspek rasionalitas dalam tempuhannya. Meski yang di yakini bukanlah sesuatu yang nampak, tetapi karena tempuhannya berdasarkan rasionalitas berpikir, maka sudah barang tentu ini dapat memuaskan pemikiran dan memunculkan rasionalitas dalam perbuatan. Hal ini bisa kita jumpai pada pemeluk agama mayoritas di negeri ini.
 
Meskipun spirit Doll hadir bukan untuk disucikan atau disembah adopternya, tetapi hakikatnya sama saja, yakni bentuk penyaluran naluri. Pada soal  pengadopsian spirit Doll, ini merupakan penampakan naluri kasih sayang yang di curahkan kepada benda mati. Jelas, ini bukan hanya salah dalam menyalurkan naluri,  tetapi juga merupakan bentuk kehilangan nalar berpikir manusia dewasa.
 
Klaim ketenangan dan ketentraman bersama spirit Doll, merupakan claim semu berbalut sugesti yang  menjerumuskan. Justru hal ini merupakan gambaran perilaku menyimpang dan cerminan kosongnya seseorang dari nilai-nilai agama. 
 
 
Semua itu tidak lepas dari corak kehidupan yang serba liberalistik akibat sekularisme yang mengkerdilkan peran agama dalam pengaturan kehidupan. Sekularisme telah berperan menciptakan pribadi kosong nilai, cacat mental dan kehilangan nalar.
 
Budaya permisif dan ikut-ikutan tanpa menimbang dengan akal serta agama sudah menjadi hal yang tidak lagi prinsip.  Begitulah saat kebebasan berperilaku menjadi prinsip yang dianut negara. Negara tidak boleh turut campur terhadap kebebasan individu, meski individu rakyat menjadi delusi. [*]

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Ngaku Bestie Kalau Masih Suka Nyinyir

Rabu, 26 Januari 2022 | 15:01 WIB

Berpikir Kritis Bisa Cegah Investasi Bodong

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:52 WIB

Manfaat Perdagangan Ekspor untuk Perekonomian

Senin, 24 Januari 2022 | 15:07 WIB

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB
X