Kehancuran Jati Diri Budaya yang Nyata

- Minggu, 9 Januari 2022 | 12:22 WIB
Momen kehancuran budaya kita sebenarnya sedang berlangsung. Hanya saja, kita tersilaukan oleh segala tentang asing. (Pixabay/aronvisuals)
Momen kehancuran budaya kita sebenarnya sedang berlangsung. Hanya saja, kita tersilaukan oleh segala tentang asing. (Pixabay/aronvisuals)

Bicara soal hegemoni budaya, barangkali yang terlintas dibenak masyarakat umum sekarang adalah budaya asing di luar Indonesia yang menyerang kebudayaan di negara ini lewat jalan globalisasi. Globalisasi tentu tidak berlepas dari sistem kapitalis yang berkuasa saat ini.

Kapitalisme selalu mencari kepentingan baik dengan cara halus maupun secara kasar, seiring datangnya era globalisasi menyebabkan eksploitasi besar-besaran di segala bidang. Hegemoni tidak hanya menunjukkan dominasi ekonomi dan politik, tetapi juga  kemampuan kelas penguasa untuk menampilkan pandangan dunianya, yang dilihat oleh kelas bawahan atau bisa disebut masyarakat umum sebagai "akal sehat" atau perspektif yang benar.

Di era modern saat ini, proses hegemoni  budaya oleh kapitalis telah dilakukan lewat segala elemen kehidupan terutama melalui peradaban, fashion, sinema, media, dll. Di Indonesia sendiri sangat terasa, bahkan  menjadi tempat yang mudah bagi kaum kapitalis untuk menyebarkan ide-idenya karena jika dilihat secara kasat mata akan terlihat bahwa orang Indonesia cenderung mudah terbawa pengaruh budaya asing yang ramai di media sosial. Bisa kita sebut salah satunya Korea Selatan.

Berapa banyak produk bangsa sendiri namun tetap saja memasarkannya menggunakan figur publik asal negeri gingseng?

Baca Juga: Syarat Tulisan Netizen Ayobandung.com agar Dimuat dan Rincian Hadiah Total 1,5 Juta

Berapa banyak televisi maupun perusahaan unicorn yang menjadikan selebriti Korea Selatan khususnya para grup idola menjadi brand ambassador?

Bukan hanya perihal bisnis, hal ini juga menunjukkan besarnya konsumsi masyarakat Indonesia terutama kaum millennial dan generasi Z terhadap budaya negara tersebut, bukan?

Namun apakah hegemoni budaya haruslah demikian? Membahas sepak terjang budaya asing menggeser budaya ibu?

Semut di seberang lautan nampak jelas, gajah di pelupuk mata tak terlihat.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menengok Alasan Seseorang Tetap Melajang

Jumat, 1 Juli 2022 | 15:53 WIB

ASEAN Diapit Dua Konflik

Senin, 27 Juni 2022 | 14:49 WIB

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB
X