Gaga Muhammad, Rachel Vennya, Kim Seonho, dan Cancel Culture

- Jumat, 7 Januari 2022 | 13:08 WIB
Budaya cancel culture merupakan salah satu alat keadilan sosial yang diciptakan masyarakat melalui media sosial sebagai bentuk dari sanksi sosia (Pixabay/GDJ)
Budaya cancel culture merupakan salah satu alat keadilan sosial yang diciptakan masyarakat melalui media sosial sebagai bentuk dari sanksi sosia (Pixabay/GDJ)

Budaya cancel culture merupakan salah satu alat keadilan sosial yang diciptakan masyarakat melalui media sosial sebagai bentuk dari sanksi sosial akibat apa yang telah dilakukan. Budaya ini juga dinilai seperti pisau bermata dua, yakni bisa menajdi alat keadilan sosial namun juga bisa menajdi alat intimidasi massal yang masyarakat lakukan terhadap seseorang. Dalam penerapannya, cancel culture dapat terjadi kepada siapa saja, namun hal ini sering menimpa seorang public figure.

Diksi cancel culture hadir pertama kali pada tahun 1991 dalam film New Jack City. Hal tersebut muncul saat scene adanya candaan misoginis dari Nino Brown (salah satu nama pemeran) terhadap pasangannya yang menjadi korban kekerasan seksual.

Baca Juga: Geowisata sebagai Jalan Lain untuk Penguatan Jiwa

Nino berkata pada pasangannya dengan kalimat “Cancel that bitch, i’ll buy another one.”  Setelah film tersebut ramai, istilah cancel culture mulai ramai digunakan di twitter sebagai bentuk candaan antar orang berkulit hitam. Namun hal ini menjadi serius saat istilah cancel culture erat kaitannya dengan public figure yang problematik.

Budaya cancel culture juga sering kali diterapkan dalam budaya negara Amerika Serikat. Dilansir dari remotivi.co.id pada tahun 2017, New York Times mengunggah laporan Weinstein seorang aktor Hollywood yang telah melakukan pelecehan perempuan terhadap belasan perempuan. Sejak saat itu juga bermunculan berbagai macam kasus pelecehan seksual dari seorang public figure. Sejak saat itu pula, banyak artis Hollywood yang mengalami cancel culture oleh masyakarat Amerika akibat telah tersebar luasnya kesadaran mengenai kekerasan seksual di kalangan masyarakat.

Beberapa kasus lain di Indonesia, hal ini terjadi mulai dari Ardhito Pramono karena unggahan lamanya yang homofobik dan rasis sehingga harus membuat video klarifikasi atas apa yang telah ia unggah tersebut. Lalu, kasus Awkarin seorang selebgram yang menggunakan sebuah illustrasi namun tidak mencantumkan nama dari illustrator karya tersebut. Banyak pihak yang mengecam tindakan Awkarin tersebut bahkan sang illustrator juga menuntut tindakannya itu.

Hal itu akhirnya membuat Awkarin untuk klarifikasi akan tindakannya melalui thread di twitter. Ia juga sempat vakum beberapa waktu akibat dari kasus nya tersebut. Belum lama ini, tersebar nya video skandal Zara Adhisty salah satu ex-member JKT48. Dari kasus nya tersebut, Zara mendapatkan berbagai kecaman hingga ucapan tidak mengenakkan dari netizen di media sosial. Ia sempat menon-aktifkan instagram miliknya lalu akhirnya dapat kembali terjun di dunia hiburan.

Baca Juga: Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond, BIVB Kedua dan Bagian Sejarah Persib Bandung

Cancel culture ini memiliki dampak baik dan buruk untuk masyarakat maupun untuk public figure. Cancel culture merupakan mode aktivisme online yang meningkatkan partisipasi publik tentang suatu hal. Namun budaya ini meningkatkan kuasa masyarakat untuk mempermasalahkan tindakan atau tingkah laku seseorang yang bahkan tidak memiliki hubungan langsung dengan lingkungannya. Padahal hal tersebut dipandang tidak memiliki urgensi untuk kehidupan masyarakat yang mengecam suatu tindakan. Namun kembali lagi tentang apa budaya ini diterapkan pada suatu permasalahan yang terjadi.

Budaya ini dinilai toxic dan destruktif daripada konstruktif untuk lingkungan masyarakat. Hal tersebut karena budaya ini hanya akan menimbulkan penghakiman moral yang dilakukan oleh masyarakat terhadap seseorang. Tentunya, budaya ini juga dinilai tidak akan terlalu berpengaruh terhadap masyarakat kelas atas karena mereka memiliki banyak dukungan. Namun akan sangat berpengaruh pada masyarakat kelas bawah.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB
X