Anak Balita Berseru Kata Bacot, Wajahkah Orang Tua Marah?

- Kamis, 6 Januari 2022 | 11:31 WIB
[Ilustrasi marah] Wajarkah orang dewasa merasa kesal atau marah ketika anak berseru kata bacot, dengan fakta yang berkembang seperti sekarang ini? (Pixabay/HaticeEROL)
[Ilustrasi marah] Wajarkah orang dewasa merasa kesal atau marah ketika anak berseru kata bacot, dengan fakta yang berkembang seperti sekarang ini? (Pixabay/HaticeEROL)

Wajarkah orang dewasa merasa kesal atau marah ketika anak berseru kata bacot, dengan fakta yang berkembang seperti sekarang ini?

Setiap perkembangan dan pertumbuhan yang dialami anak-anak merupakan hal yang menakjubkan untuk diperhatikan. Tapi, pernahkan kamu terkejut atau mungkin terdiam mendengarkan dan melihat sebuah kalimat atau gestur yang belum sesuai dengan usia mereka?

Suatu hari, Saya terdiam dengan perasaan campur aduk ketika seorang sepupu perempuan berusia 4 tahun sedang bermain dengan teman sebayanya dan tiba-tiba mengomentari temannya dengan mengatakan ih gelay atau berseru bacot!. Usut punya usut, kata tersebut dipelajari melalui media sosial TikTok, dimana saat itu kata-kata tersebut tengah viral di media sosial. 

Berbagai kata yang sebenarnya belum sesuai diucapkan anak-anak wara-wiri di ponsel tanpa dampingan dewasa sehingga kata dan bahasa yang diperoleh anak-anak kurang terkendali.

Pemerolehan bahasa merupakan penguasaan bahasa yang dilakukan anak secara natural saat belajar bahasa ibunya. Kata per kata yang didengar anak dari orang tua dan orang orang di sekelilingnya membentuk kemampuan berbahasa anak-anak. 

Baca Juga: Instagram, Media Sosial yang Memperlanggeng Hustle Culture

Di era digital, pemerolehan bahasa Indonesia tidak hanya datang dari orang-orang disekitarnya dan media elektronik, tapi juga dari media sosial yang diakses melalui perangkat seperti ponsel. Anak-anak biasanya bereksplorasi dan mengimitasi apa yang mereka dengar maupun yang mereka lihat di media sosial ketika mereka telah dikenalkan ponsel dan sosial media sedari dini.

Media sosial menyusup ke seluruh sudut kehidupan masyarakat, menjadikan media sosial sebagai salah satu medium pemerolehan Bahasa Indonesia terbaru beberapa tahun belakangan. Posisi media massa yang dulunya menjadi salah satu medium utama dalam proses perencanaan dan pewarisan bahasa Indonesia kini memiliki saingan bernama sosial media. Bedanya, media massa memiliki pagar-pagar yang mengatur kebahasaan dalam penyiarannya, sedangkan media sosial adalah medium tanpa regulasi yang memagari tentang kebahasaan, bebas, dan liar.

Media sosial sangat efektif dalam menyebarkan kosakata baru baik berupa Bahasa Indonesia formal maupun non-formal. Namun, tampaknya kosakata tidak baku lebih mudah tersorit melalui sosial media, baik kata bermakna positif bahkan kata yang bermakna negatif. Sebut saja, beberapa istilah yang populer di tahun 2021 seperti ‘jamet’, ‘cepu’, dan ‘gelay’. 

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Ngaku Bestie Kalau Masih Suka Nyinyir

Rabu, 26 Januari 2022 | 15:01 WIB

Berpikir Kritis Bisa Cegah Investasi Bodong

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:52 WIB

Manfaat Perdagangan Ekspor untuk Perekonomian

Senin, 24 Januari 2022 | 15:07 WIB

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB
X