Instagram, Media Sosial yang Memperlanggeng Hustle Culture

- Kamis, 6 Januari 2022 | 08:45 WIB
Fenomena hustle culture diperparah oleh salah satu hasil kemajuan teknologi informasi, yaitu media sosial seperti Instagram. (Fllickr/Solen Feyissa)
Fenomena hustle culture diperparah oleh salah satu hasil kemajuan teknologi informasi, yaitu media sosial seperti Instagram. (Fllickr/Solen Feyissa)

Fenomena hustle culture diperparah oleh salah satu hasil kemajuan teknologi informasi, yaitu media sosial seperti Instagram.

Dunia saat ini berputar dalam tempo yang cepat dan hal tersebut dapat ditemukan di keseharian kita. Sebagai contoh, kehidupan masyarakat yang semula berjalan dengan normal lantas harus mengalami perubahan dengan datangnya pandemi Covid-19 dan sistem bekerja dari rumah atau Work from Home (WFH) pun tidak lama kemudian diterapkan.

Kondisi tersebut menimbulkan tantangan baru bagi masyarakat untuk harus beradaptasi dengan cepat dan bertahan di tengah perubahan dunia yang intens.

Tantangan ini cenderung lebih dapat dirasakan penduduk yang berada dalam kategori usia produktif, yang apabila merujuk pada Badan Pusat Statistik (BPS), yaitu mereka yang berusia 15 sampai 64 tahun.

Dari survei penduduk yang dilakukan oleh BPS pada 2020 lalu, per September 2020 terdapat sekitar 191,08 juta jiwa di Indonesia yang termasuk ke dalam kategori penduduk usia produktif. Angka tersebut adalah 70.72% dari total populasi Indonesia yang berjumlah 270,2 juta jiwa.

Mengenal Hustle Culture, Budaya Gila Kerja

Demi meraih mimpi-mimpi di tengah era revolusi industri 4.0 ini, tidak sedikit penduduk usia produktif, khususnya kalangan milenial, yang menambah waktu kerjanya untuk bisa terus “produktif”. Situasi di mana seseorang bekerja secara berlebihan ini dapat disebut dengan hustle culture.

Istilah hustle culture ini pertama kali dikenalkan oleh Wayne Oates di tahun 1971 melalui bukunya yang berjudul “Confessions of a Workaholic: the Facts about Work Addiction”. Fenomena ini menggambarkan gaya hidup di mana seseorang bekerja secara berlebihan dan menganggap apa yang dilakukannya adalah sebuah produktivitas untuk meraih kesuksesan di kemudian hari.

Baca Juga: Pemasyarakatan ialah Harapan bagi Masa Depan Indonesia

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Ngaku Bestie Kalau Masih Suka Nyinyir

Rabu, 26 Januari 2022 | 15:01 WIB

Berpikir Kritis Bisa Cegah Investasi Bodong

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:52 WIB

Manfaat Perdagangan Ekspor untuk Perekonomian

Senin, 24 Januari 2022 | 15:07 WIB

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB
X