Dampak Pandemi dan Adaptasi Industri Mikro dan Kecil di Jawa Barat

- Senin, 3 Januari 2022 | 17:41 WIB
Industri mikro dan kecil (IMK) merupakan salah satu kelompok sektor industri pengolahan yang terdampak pandemi cukup parah. (Ayobandung.com/Kavin Faza)
Industri mikro dan kecil (IMK) merupakan salah satu kelompok sektor industri pengolahan yang terdampak pandemi cukup parah. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Tentunya industri mikro dan kecil (IMK) merupakan salah satu kelompok sektor industri pengolahan yang terdampak pandemi cukup parah.

Wabah Covid-19 yang ditetapkan menjadi pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 merupakan wabah penyakit akibat Corona Virus Disease–19 (Covid-19) yang terjadi serempak meliputi daerah geografis yang luas (seluruh negara/benua). Memburuknya kondisi akibat pandemi Covid-19 berpengaruh langsung pada kondisi perekonomian dunia, termasuk  Indonesia. Dampak pandemi telah membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar 2,07% pada tahun 2020. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu provisi penyangga perekonomian Indonesia terkontraksi lebih dalam, yaitu sebesar 2,44%.

Sektor industri pengolahan yang merupakan sektor dengan kontribusi terbesar pada perekonomian Indonesia mengalami dampak yang lebih parah, yaitu terkontraksi -2,93%. Sektor industri pengolahan di Provinsi Jawa Barat pun merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar, yaitu 41,19% pada tahun 2020. Pertumbuhan sektor industri pengolahan Jawa Barat mengalami kontraksi lebih dalam, yaitu sebesar -4,22%. Menurut BPS Jawa Barat, kinerja industri pengolahan dipengaruhi oleh turunnya kinerja industri nonmigas sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Pandemi menyebabkan permintaan ekspor produk industri merosot demikian juga permintaan domestik. Hal ini ditandai dengan terkontraksinya ekspor dan turunnya konsumsi rumah tangga termasuk melemahnya impor bahan baku industri.

Dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja, sektor industri pengolahan di Jawa Barat juga mengalami penurunan. Hasil Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik, menunjukkan sekitar 18,56% orang yang bekerja pada bulan Agustus 2020 adalah pekerja pada sektor industri pengolahan. Jumlah pekerja di sektor ini mengalami penurunan sebesar 2,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Penduduk yang bekerja pada sektor industri pengolahan pada tahun 2019 adalah sebesar 21,07 persen. Terpuruknya kinerja sektor industri pengolahan akibat dampak Covid-19 menjadi salah satu penyebab peningkatan angka pengangguran.

Baca Juga: Nostalgia Jadi Strategi Marketing Cemerlang dalam Dunia Perfilman

Peran industri mikro dan kecil dalam sektor industri pengolahan cukup besar. Berdasarkan hasil Survei Industri Mikro dan Kecil pada tahun 2020, 43,66% kontribusi Indeks Industri Mikro dan Kecil berasal dari Pulau Jawa. Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan kontribusi Indeks Industri Mikro dan Kecil ketiga terbesar di Indonesia, yaitu sebesar 7,77% setelah Provinsi Jawa Timur (12,69%), dan Provinsi DKI Jakarta (9,97%).

Industri mikro dan kecil (IMK) merupakan salah satu kelompok sektor industri pengolahan yang terdampak pandemi cukup parah. Sejumlah usaha harus menutup usahanya. Sebagian lagi harus mengubah jenis produknya dan tidak melakukan produksi untuk sementara waktu. Hanya sebagian kecil dari kelompok kegiatan usaha itu yang justru mampu menangkap peluang pada masa pandemi ini. Kelompok usaha industri ini adalah industri yang berperan dalam penanganan pandemi Covid-19, seperti industri farmasi, obat, obat tradisional, serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia.

Dilihat dari jumlah usaha, Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah usaha industri mikro dan kecil terbanyak ketiga dengan persentase 7,09% setelah Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur. Sekitar 78,44% di antara usahanya masih tetap berproduksi. Sementara itu, industri mikro dan kecil di Provinsi Jawa Tengah sebesar 8,24% dari seluruh IMK yang ada di Indonesia. Sekitar 77,44% di antara usahanya masih tetap berproduksi. Adapun usaha industri mikro dan kecil di Provinsi Jawa Timur merupakan terbanyak kedua, yaitu sebesar 7,62%, dan sekitar 82,75% di antaranya masih tetap berproduksi.

Baca Juga: Pecel Pakis: Sajian Pecel dari Desa Colo Kudus, Warisan Juru Masak Keraton Solo

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Artikel Terkait

Terkini

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB
X