Nostalgia Jadi Strategi Marketing Cemerlang dalam Dunia Perfilman

- Senin, 3 Januari 2022 | 14:30 WIB
Ilustrasi pembukaan bioskop di masa pandemi. Saat ini, nostalgia merupakan alat marketing yang kuat dalam industri film. Dengan membawa kenangan masa lalu kita ke dalam bentuk yang baru. (Ayobandung.com/Kavin Faza)
Ilustrasi pembukaan bioskop di masa pandemi. Saat ini, nostalgia merupakan alat marketing yang kuat dalam industri film. Dengan membawa kenangan masa lalu kita ke dalam bentuk yang baru. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Saat ini, nostalgia merupakan alat marketing yang kuat dalam industri film. Dengan membawa kenangan masa lalu kita ke dalam bentuk yang baru.

Sebagian dari kita mungkin sepakat bahwa film merupakan mesin waktu yang paling canggih. Oleh sebab itu, industri perfilman sering kali menggunakan strategi marketing melalui nostalgia untuk target penontonnya.

Salah satu film yang menerapka strategi ini adalah Ada Apa dengan Cinta (AADC). Film yang sukses besar pada tahun 2002 ini kembali digarap pada tahun 2016 dengan ide cerita yang sama, yaitu seputaran kisah percintaan si tokoh utama, Cinta dan Rangga. Kesuksesan film AADC 2 tidak terlepas dari nilai-nilai nostalgia yang ditawarkan sejak awal serta rasa rindu para penggemarnya untuk menyaksikan kembali film yang dulu pernah mengisi masa muda mereka.

Fenomena “menjual masa lalu” ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Masih ingat dengan film animasi toy story? Hingga saat ini, sudah ada empat film animasi toy story yang dirilis pada tahun 1995, 1999, 2010, dan 2019.

Dari tahun rilisnya saja, kita sudah dapat mengira bahwa target penonton toy story 4 bukanlah anak-anak, tetapi orang dewasa yang menonton toy story film pertama ketika mereka kecil. Selain itu, pada tahun 2022, film berjudul lightyear akan dirilis. Film animasi tersebut memiliki tokoh utama Buzz Lightyear yang merupakan salah satu tokoh dari toy story. Untuk kesekian kalinya, pixar dan disney menggunakan strategi marketing nostalgia untuk film baru mereka.

Baca Juga: Pecel Pakis: Sajian Pecel dari Desa Colo Kudus, Warisan Juru Masak Keraton Solo

Kenapa nostalgia? Apa istimewanya? Kita semua sepakat bahwa masa kecil tidak akan pernah bisa diulang. Itu mengapa nostalgia adalah satu-satunya jalan untuk menghadirkan kembali kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang pernah terjadi di masa lalu. Kebahagiaan kecil yang mungkin saat dewasa sulit untuk didapatkan. Menghadirkan kembali tokoh pada masa kecil menjadi pengingat bahwa kebahagiaan bisa begitu sederhananya.

Menurut Wibisono (2016), nostalgia dapat membantu menguatkan manusia dalam menghadapi tantangan hidup yang tidak ada habisnya. Dengan mengingat kenangan indah yang dulu pernah terjadi, kerap menyenangkan terutama pada masa-masa yang berat.

Baca Juga: Uncertainty dalam Liburan

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Artikel Terkait

Terkini

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB
X