Berkah Penggagalan Pembelian Sukhoi 35

- Senin, 27 Desember 2021 | 15:41 WIB
Amerika Serikat menggagalkan pembelian 11 Sukhoi-35 untuk Indonesia. Das (Wikimedia Commons/Dmitry Avdeev (Lisensi CC))
Amerika Serikat menggagalkan pembelian 11 Sukhoi-35 untuk Indonesia. Das (Wikimedia Commons/Dmitry Avdeev (Lisensi CC))

Amerika Serikat menggagalkan pembelian 11 Sukhoi 35 untuk Indonesia. Dasar hukum yang dipakainya adalah the Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAASTA) atau Undang-Undang melawan Musuh Amerika melalui (penerapan) sanksi.

Undang-undang ini diberlakukan terhadap Rusia, Iran dan China, serta negara-negara lain yang bertransaksi dagang, keuangan/perbankan, dan lain-lain dengan ketiga negara.

Pengusulnya adalah Edward Randall Royce anggota DPR dari partai Republik. Dia memperoleh dana kampanye dari kalangan perbankan, lembaga keuangan, perusahaan rental dan lain-lain. Negara bagian California merupakan daerah pemilihan anggota Senat ini.

CAASTA disahkan Senat pada 27 Juli 2017 dengan komposisi suara 98 setuju dan dua menentang. Di DPR mendapat dukungan 419 Senator dan tiga menentang. Presiden Donald Trump menandatanganinya pada 2 Agustus 2017.

Lebih banyak negara yang menentang yang dibanding yang menyetujui pemberlakuan CAASTA. Sekutu AS di NATO atau Uni Eropa mayoritas menentang. Turki, India, Mesir mengabaikan dengan tetap membeli pesawat atau penangkis serangan udara buatan Rusia.

Baca Juga: Dijegal Amerika Serikat, Gagal Mendapat Sukhoi-35

Indonesia tunduk dengan membatalkan perjanjian imbal beli yang ditekan. Sebagai gantinya membeli 8 F-15 EX buatan Boeing Corp.,AS  dan 36 Rafale buatan Prancis. 

Dalam kebijaksanaan bisnis, tak ada yang menang atau kalah. Yang terjadi adalah sama-sama diuntungkan. Apa yang didapat Indonesia?

Amerika Serikat adalah produsen uang dolar atau greenback yang menjadi alat transaksi di seluruh dunia. Dulu sempat terancam rencana Moammar Khadafi dan Saddam Hussein yang mau mempopulerkan matauang emas. Belakangan ini ramai perdagangan bilateral yang tidak menggunakan dolar dan juga pemakaian matauang virtual.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB

Penduduk Cicalengka Tahun 1845 dan 1867

Jumat, 6 Mei 2022 | 19:10 WIB
X