Kegiatan para Pelintas Titian Langit

- Jumat, 24 Desember 2021 | 08:31 WIB
 Dadeng Mulyana, Pendiri komunitas Pushing Panda, penanggung jawab Bandung Highline Festival  #2, sedang meniti tali sepanjang 200 meter.  Para pelintas titian langit berjalan di atas ketinggian 30-40 m dengan panjang bentangan 200 m, antara Karanghawu dengan Pasir Pabeasan. (Foto: Dok. BHF #2)
Dadeng Mulyana, Pendiri komunitas Pushing Panda, penanggung jawab Bandung Highline Festival  #2, sedang meniti tali sepanjang 200 meter. Para pelintas titian langit berjalan di atas ketinggian 30-40 m dengan panjang bentangan 200 m, antara Karanghawu dengan Pasir Pabeasan. (Foto: Dok. BHF #2)

Para pelintas titian langit berjalan di atas ketinggian 30-40 m dengan panjang bentangan 200 m, antara Karanghawu dengan Pasir Pabeasan (T-125).

Tali-tali itu terbentang dari satu batukarang yang mencuat ke batukarang yang mencuat lainnya di atas lubang “tungku” Karanghawu, Citatah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Selama tiga hari, Bandung Highline Festival (BHF) #2 digelar, mulai tanggal 17, 18, 19 Desember 2021.

Sebanyak 120 orang pegiat slackline berkumpul untuk melakukan highline dan kegiatan lainnya. Mereka datang dari Bandung, Jakarta, Bogor, Kuningan, Cianjur, Purwakarta, masarakat sekitar Karanghawu, Kalimantan, dan dua orang dari Viena, Austria. Pesertanya meningkat empat kali peserta pada BHF #1 yang berjumlah 30 orang. Peserta BHF #1 berasal dari Bali, Tasik,  Bogor, Jakarta, Bandung, Rusia dan Equador.

Melihat para highliner berjalan meniti tali di ketinggian, jadi teringat lais di Tatar Sunda. Tambang seukuran ibujari kaki dibentangkan di dua tiang bambu yang tinggi, lalu ia berjalan di atas tambang yang berayun-ayun, karena batang bambu tak bisa tetap tegak. Setelah berjalan, kemudian meloncat tinggi terbantu oleh ayunan tambang, lalu mendarat kembali sambil duduk di atas tambang. Menegangkan, karena lais itu tanpa tali pengaman.

Lais pun, menurut “Dadeng” Mulyana (Pendiri komunitas Pushing Panda), dapat dikategorikan sebagai slackline. Karena pada dasarnya slacklining itu olahraga, sekaligus seni menjaga keseimbangan di atas tali pipih yang membentang. Alat sangat penting dan harus dipasang dan digunakan sesuai prosedur keselamatan.

Baca Juga: Kabar Bohong Saat Bencana Alam

Tapi bukan hanya alat yang dibutuhkan, para highliner pun harus terpusat pada pengendalian diri, sehingga memerlukan pikiran yang tenang. Boleh jadi, seperti pemain lais, juga highliner, tidak memakai sepatu saat meniti talinya, kkarena ketika telapak kaki menginjak tali, syarafnya dapat merasakan kesatuan injakan dengan tali yang diinjaknya. Inilah yang membuat para peniti tali itu lebih bisa tenang.

Vinni Fitriyani (Komunitas Pushing Panda) sebagai ketua penyelenggara BHF #2 mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk menyatukan highliner Indonesia, memperkenalkan peralatan highline, mengadakan diskusi tentang prosedur keamanan dalam melakukan highline, setiap peserta mendapatkan pengalaman langsung di Karanghawu, dan merasakan melintasi titian langit setinggi 30-40 m dengan panjang bentangan 200 m, antara Karanghawu dengan Pasir Pabeasan (T-125).

Inilah bentangan terpanjang yang pernah dipasang di Indonesia. Bahkan, menurut Dadeng, inilah lintasan terpanjang di Asia-Pasifik. Sedangkan lintasan tertinggi ada di antara dua menara batu di Gunung Parang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, yang tingginya 800 m dpl. Walau sempat terjatuh di tengah-tengah titian tali pipih itu, namun tali yang terentang 200 m itu dapat diselesaikan sampai akhir sejak BHF #1 pada tanggal 20 Januari 2020 oleh peserta dari Rusia.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB

Penduduk Cicalengka Tahun 1845 dan 1867

Jumat, 6 Mei 2022 | 19:10 WIB
X