Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

- Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB
Pixabay/mohamed_hassan
Pixabay/mohamed_hassan

Kesalahpahaman persepsi akan kesetaraan gender perempuan menimbulkan stereotip terhadap sistem patriarki yang ada.

Berbicara mengenai kesetaraan gender, pasti akan muncul pro dan kontra. Banyak juga yang mengatakan: “Lalu mau bagaimana? Zaman sekarang sudah ada kesetaraan gender kok, perempuan sudah lumrah untuk melanjutkan sekolah tinggi, perempuan sudah banyak yang bekerja setara dengan laki-laki, lalu apa yang masih menjadi permasalahan?”.

Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa kesetaraan memiliki konsep yang terpenting ‘setara’, padahal hal itu merupakan pola pikir yang salah.

Kesetaraan gender yang termuat dalam lampiran Inpres No.9 Tahun 2000 yang menyatakan bahwa keadilan antara laki-laki dan perempuan mengenai aspek marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan dan beban kerja. Manifestasi keadilan yang terjadi, saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain kesetaraan gender mewujudkan sila kelima mengenai keadilan sosial dalam masyarakat.

Aspek keadilan gender yang pertama mengenai marginalisasi yaitu suatu proses peminggiran sebagai akibat dari perbedaan gender yang mengakibatkan kemiskinan. Contohnya mengenai perempuan yang sebagai pencari nafkah tambahan. Dengan hal itu mendorong banyak pekerja perempuan yang dipandang lebih rendah dan rentan terkena PHK.

Yang kedua mengenai subordinasi yang merupakan suatu peran yang dilakukan oleh salah satu gender dianggap lebih rendah daripada yang lain. Seperti yang telah lekat pada masyarakat, perempuan lebih erat dikaitkan mengenai urusan keluarga dan rumah tangga, sedangkan laki-laki lebih mengarah kepada pencari nafkah.

Baca Juga: Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Ketiga, stereotype sebagai pemberian label atau citra baku pada suatu individu yang didasarkan pada anggapan yang salah. Misalnya perempuan adalah individu yang cengeng, tidak dapat mengambil suatu keputusan penting dan laki-laki menjadi pencari nafkah yang utama.

Keempat ada kekerasan, merupakan suatu tindak kekerasan baik fisik maupun non fisik yang berasal dari individu ataupun lembaga kepada suatu individu lain. Hal ini akibat dari adanya pandangan bahwa laki-laki dianggap maskulin yang gagah, kuat, berani; sedangkan perempuan dianggap feminism yang lembut, lemah dan penurut. Cara pandang inilah yang menganggap kaum perempuan lemah, dan terjadi kesewenang-wenangan terhadap perempuan, seperti KDRT, pemerkosaan hingga pelecehan seksual.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB

Kompi Artileri ke-19 di Nagreg sejak 1905

Minggu, 11 September 2022 | 14:19 WIB

Pelangi Ratu Elizabeth II dalam Paririmbon Sunda

Minggu, 11 September 2022 | 07:00 WIB

Perihal RUU Sisdiknas dan Kesejahteraan Guru

Minggu, 11 September 2022 | 06:00 WIB
X