Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

- Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB
Nasi ayam khas Semarang, mirip dengan nasi liwet khas Solo (Badiatul Muchlisin Asti)
Nasi ayam khas Semarang, mirip dengan nasi liwet khas Solo (Badiatul Muchlisin Asti)

Dilengkapi dengan sambal pedas-manis sesuai selera wong Semarang, seporsi nasi ayam disajikan dalam pincuk dari daun pisang yang disangga mangkuk besar.

Bila Jogjakarta dan Solo disebut sebagai ‘surga kuliner’ karena kaya akan kuliner eksotik, maka Semarang tentu juga sangat layak dimasukkan juga ke dalam kategori ini. Jogjakarta, Solo, dan Semarang, yang biasa disingkat Joglosemar, adalah segitiga emas di pusat Pulau Jawa yang sangat kaya akan khazanah kuliner. Mendiang Bondan Winarno bahkan menyebut Joglosemar sebagai pusat peradaban kuliner Jawa.

Sebagai destinasi wisata kuliner, Semarang menawarkan ragam kuliner eksotik, di antaranya hidangan lezat hasil silang budaya dengan pelbagai tradisi kuliner bangsa lain seperti Tiongkok, Eropa, dan Arab. Selain kaya khazanah soto, Semarang juga menawarkan ragam kuliner lezat seperti asem-asem, nasi goreng babat, tahu gimbal, tahu pong, gule kambing busataman, mi kopyok,  bandeng kropok, dan lain-lain.

Satu lagi kuliner lezat dari Semarang yang bisa disebut, yaitu nasi ayam atau sega ayam. Nasi ayam adalah hidangan khas Semarang berupa nasi gurih—yang dimasak dengan santan, disajikan dengan ayam opor, telur rebus berbumbu bacem, tahu, sayur labu siam, dan krecek, lalu diguyur dengan kuah opor kuning.

Baca Juga: Swike Purwodadi: Sajian Kuliner Berbahan Paha Katak, Dirintis Kong Giring Sejak Tahun 1901

Nasi ayam ini mirip nasi liwet khas Solo. Nyaris identik. Sehingga sepintas tak ada perbedaannya. Bondan Winarno dalam 100 Mak Nyus Jalur Mudik, Jalur Pantura dan jalur Pantai Selatan (2018) menyatakan, di Semarang ada sajian sejenis yang disebut sega ayam. Orang Semarang keukeuh tidak mau menyebutnya nasi liwet. Katanya, untuk membedakan, nasi liwet kuahnya sedikit, sega ayam kuahnya banyak.

Perbedaan nasi ayam Semarang dan nasi liwet Solo memang tipis. Suryo Sukendro dalam buku Solo Surga Kuliner (2009) menguraikan, nasi liwet adalah menu sederhana, yakni nasi gurih yang terbuat dari beras yang dimasak dengan santan dan kaldu ayam, sehingga hasilnya membuat nasi terasa gurih, beraroma harum, dan amat memanjakan lidah.

Masih menurut Suryo, nasi yang sudah ditanak dengan teknik spesial semacam itu, lalu diracik dengan sayur jipang (labu siam) yang dimasak pedas, telur pindang rebus, daging ayam yang disuwir-suwir, kemudian disempurnakan dengan kumut (terbuat dari kuah santan yang dikentalkan, warnanya putih dan rasanya gurih).

Kumut itu juga populer dengan sebutan areh—kuah kental yang terbuat dari santan, yang dimasak dengan cara khusus, terkadang diberi tambahan kocokan putih telur, sehingga menciptakan rasa gurih dengan tekstur yang lembut.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Ngaku Bestie Kalau Masih Suka Nyinyir

Rabu, 26 Januari 2022 | 15:01 WIB

Berpikir Kritis Bisa Cegah Investasi Bodong

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:52 WIB

Manfaat Perdagangan Ekspor untuk Perekonomian

Senin, 24 Januari 2022 | 15:07 WIB

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB
X