Dari Dominique Willem Berretty untuk Masjid Nijladweg Cipaganti

- Selasa, 30 November 2021 | 16:01 WIB
Masjid Nijlandweg di Bandung, sekarang Jl. Cipaganti. 1933/ Arsitektur Tropis Modern karya dan biografi C.P. Schoemaker. Oleh C.J. van Dullemen (Inset: D.W. Berretty. Berretty/Cid/Joanknecht/Oelrich/RK)
Masjid Nijlandweg di Bandung, sekarang Jl. Cipaganti. 1933/ Arsitektur Tropis Modern karya dan biografi C.P. Schoemaker. Oleh C.J. van Dullemen (Inset: D.W. Berretty. Berretty/Cid/Joanknecht/Oelrich/RK)

Masjid Nijladweg Cipaganti adalah saksi bisu persahabatan dua tokoh besar yang namanya begitu terkenal di Hindia Belanda khususnya di Bandung dalam bidang arsitektur dan pers. C.P. Wolff Schoemaker dan Berretty">Dominique Willem Berretty.

Masjid Njilandweg atau Cipaganti adalah sebuah Masjid yang terletak di jalan Cipaganti, Bandung. Menurut informasi, Masjid ini telah berdiri sejak tahun 1800-an namun sempat dirubuhkan oleh pemerintah Hindia Belanda karena wilayah Cipaganti atau Njilandweg akan dijadikan perumahan elit orang orang Eropa dan termasuk lokasi Masjid yang rencananya akan dibangun jalan diatasanya.

Namun kaum muslimin disana memprotes keras kebijakan pemerintah saat itu sehingga singkat cerita Masjid dibangun kembali dengan syarat dibuat menjadi bangunan permanen karena sebelumnya bahan bangunan Masjid ini hanya berupa tiang tiang kayu penyangga atap dan bilik bambu sebagai dinding.

Barulah pada Februari 1933, Masjid Nijlandweg atau Cipaganti direnovasi tak tanggung tanggung yang menjadi kepala arsiteknya adalah seorang arsitek ternama di Hindia Belanda kala itu, seorang Profesor dan guru besar bidang teknik di Technische Hoogenschool Bandung yang kemudian kita kenal dengan nama Institut Teknologi Bandung atau ITB, Charles Prosper Wolff Schoemaker. Dikutip dari buku Arsitektur Tropis Modern karya dan biografi C.P. Schoemaker.

Oleh C.J. van Dullemen disebutkan bahwa “Tempat peribadatan terakhir yang didesain oleh Schoemaker adalah Masjid Nijlandweg” yang mana sesuai dengan keimanan barunya yaitu Islam. Sebelumnya Schoemaker telah mendesain dua tempat ibadah di Bandung, yaitu GerejaSt Peter pada tahun 1922 dan GerejaBethel Protestan  tahun 1925.

Tak jauh dari Nijlandweg, di utara kota Bandung tepatnya di jalan Lembangweg, kurang lebih satu bulan setelah proses renovasi Masjid dimulai, tepatnya tanggal 12 Maret 1933 tengah terjadi proses peletakan batu pertama Villa Isola milik Berretty">Dominique Willem Berretty, pengusaha media di Hindia Belanda yang tengah berada dipuncak kesuksesannya.

Seperti Masjid Nijlandweg, Villa Isola pun diarsiteki oleh C.P. Schoemaker padahal kala itu Schomaker sedang dalam posisi “dijauhi” oleh kalangan Eropa akibat dari perpindahan keimanannya dari Katolik menuju Islam. Namun D.W. Berretty saat itu sanggup untuk  merangkul Schoemaker bahkan memberikan dia sebuah pekerjaan yang teramat besar yakni membuat sebuah villa yang dikemudian hari villa tersebut dikenal sebagai “villa terindah di dunia”. (Arsitektur Tropis Modern karya dan biografi C.P. Schoemaker. Oleh C.J. van Dullemen.)

Ada sebuah dugaan dari W. Lemei, penulis buku Moderne Woning Architectuur in Ned.Indie bahwa Berretty memilih Schoemaker sebagai arsitek pembangunan Villa Isola karena adanya kemiripan dari dua orang itu, yakni keduanya bertipikal mata keranjang dan penuh daya pikat terhadap perempuan. Salah satu bukti konkretnya adalah dua orang ini pernah beberapa kali menikah. C.P Schomaker diberitakan pernah menikah hingga lima kali sedangkan D.W. Berretty enam kali. Sebuah contoh aneh bagi kalangan Eropa saat itu.

Selain dari pada itu besar kemungkinan alasan D.W Berrety menunjuk Schomaker menjadi arsitek villa nya adalah dua orang ini sama sama merasakan apa yang menjadi kegelisahan ketika mereka berada dalam posisi “dijauhi” oleh kalangan atas Eropa. Jika C.P Schomaker “dijauhi” karena perpindahan keimanannya dari Katolik menuju Islam lain hal dengan D.W. Berretty, sedari kecil hingga remaja dia “dijauhi” karena tak tentu asal. Dia bukanlah Eropa murni karena Ibunya berasal dari Yogyakarta, dia pun bukan seorang menak Jawa dari kalangan kerajaan atau pejabat daerah oleh karena itu dia sering “di-bully” oleh anak anak Eropa maupun menak Jawa.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB
X