Nasi Megono ‘Kuliner Rakyat’ Khas Pekalongan: dari Menu Sesaji hingga Jadi Ransum Tentara

- Minggu, 28 November 2021 | 10:27 WIB
Nasi Megono, kuliner khas Pekalongan yang terbuat dari nangka muda.  (Badiatul Muchlisin Asti)
Nasi Megono, kuliner khas Pekalongan yang terbuat dari nangka muda. (Badiatul Muchlisin Asti)

Versi ketiga, yang juga populer di masyarakat Pekalongan, nasi megono masyhur pula dengan sebutan “nasi tentara”. Itu karena nasi megono pernah juga jadi bekal atau ransum para tentara saat perang melawan agresi militer Belanda. Situasi yang serba sulit dan keterbatasan bahan pangan saat situasi perang, masyarakat harus berpikir cepat menyediakan ransum bagi tentara rakyat ini.

Baca Juga: Pindang Serani: Sajian Sup Ikan Laut dari Jepara, Berawal dari Bekal Nelayan Melaut

Nasi megono diolah dari nangka muda atau disebut oleh warga sekitar Pekalongan sebagai “cecek”  yang dipadu dengan makanan urapan seperti kacang-kacangan dan sayuran. Warga setempat menambahkan nangka muda yang dicincang halus untuk menciptakan cita rasa gurih. Saat itu, nasi megono jadi menu bagi tentara republik yang melakukan perang gerilya. Dari sinilah, megono tercipta khas, menemani setiap tentara gerilya berperang untuk melawan penjajah.

Kata Megono sendiri berasal dari bahasa Jawa mergo yang artinya sebab, dan ono yang artinya ada. Entah versi mana yang benar, namun diyakini, kuliner nasi megono sudah ada sejak sebelum perang kemerdekaan. Boleh jadi, ketiga versi tersebut benar semua. Nasi megono sudah ada sejak Mataram Kuno, lalu berlanjut pada masa Mataram Islam, hingga jadi ransum tentara di era kemerdekaan, lalu kini jadi menu di pelbagai warung makan dan restoran di sentero Pekalongan dan daerah Pantura lainnya. Walahu a’lam. [*]

 

Konten ini dibuat oleh Badiatul Muchlisin Asti

Pegiat literasi, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat kuliner tradisional Indonesia

Isi konten merupakan tanggung jawab penulis

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB
X