Nasi Megono ‘Kuliner Rakyat’ Khas Pekalongan: dari Menu Sesaji hingga Jadi Ransum Tentara

- Minggu, 28 November 2021 | 10:27 WIB
Nasi Megono, kuliner khas Pekalongan yang terbuat dari nangka muda.  (Badiatul Muchlisin Asti)
Nasi Megono, kuliner khas Pekalongan yang terbuat dari nangka muda. (Badiatul Muchlisin Asti)

Sejarah nasi megono berawal dari budaya Keraton Jogjakarta pada masa Kerajaan Mataram Kuno, yang kerap mengadakan sesaji untuk berbagai ritual

Bila menyebut Pekalongan, yang terlintas adalah batik. Tidak salah, karena Pekalongan memang berjuluk Kota Batik. Bahkan lebih dari itu, Pekalongan membranding diri sebagai Kota Batik Dunia (World’s City of Batik) sebagai langkah batik Pekalongan mendunia. Tahun 2014, Pekalongan menjadi satu-satunya wakil Indonesia, bahkan Asia Tenggara, yang masuk dalam kategori kota kreatif dunia oleh UNESCO.

Tak hanya batik, Pekalongan juga kaya khazanah kuliner pusaka. Selain tauto—soto khas Pekalongan, ada juga pindang tetel, lontong lemprak, garang asem—yang beda dengan garang asem khas Jawa Tengah pada umumnya, apem kesesi, dan nasi megono.

Kuliner khas Pekalongan yang disebut terakhir, yaitu nasi megono, termasuk kuliner khas Pekalongan yang cukup familiar. Kuliner ini sangat populer di Pekalongan dan disebut-sebut sebagai  “kuliner rakyat” karena sudah menyatu dengan detak kehidupan masyarakat Pekalongan.

Nasi megono termasuk kategori all day food alias kuliner yang bisa dinikmati sebagai sajian sarapan di pagi hari, menu makan siang, atau hidangan di malam hari. Juga, kuliner ini mudah ditemukan karena banyak dijajakan, mulai dari warung pinggir jalan hingga restoran.

Nasi megono sendiri terdiri atas nasi putih yang di atasnya diberi olahan nangka muda yang disebut megono. Jadi, olahan nangka muda itulah yang disebut megono. Bahan baku megono hampir sama dengan gudeg Jogjakarta, namun cita rasa dan cara mengolahnya berbeda. Gudeg Jogjakarta dominan bercita rasa manis, megono Pekalongan cenderung gurih.

Untuk membuat megono, nangka muda dicincang kasar menjadi potongan-potongan kecil. Lalu dipadu dengan parutan kelapa muda. Paduan cacahan nangka muda dan parutan kelapa tersebut dikukus bersama dengan aneka bumbu yang sudah dihaluskan. Bumbu halusnya antara lain bawang putih, bawang merah, cabai merah, ketumbar, merica, kemiri, dan lengkuas. Selain itu, ditambahkan pula daun salam, serai, dan bunga kecombrang.

Nasi megono biasa disajikan dengan mendoan, yaitu tempe tipis bertepung yang digoreng setengah matang. Lalu disajikan dengan pincuk daun pisang. Tapi pada perkembangannya, nasi megono juga biasa disantap bersama telur, omelet, tempe goreng, atau lauk lainnya. Penyajian pun tak mesti dengan daun pisang, tapi bisa pula menggunakan piring.

Badiatul Muchlisin Asti dan Laela Nurisysyafa’ah dalam buku “Kumpulan Resep Masakan Tradisonal dari Sabang sampai Merauke” (2010), memasukkan resep membuat megono dengan kreasi tambahan ikan tenggiri dan petai. Bahan-bahannya meliputi: nangka muda yang dicacah halus, ikan tenggiri, petai dipotong kecil-kecil, kelapa agak muda, daun so/daun melinjo, bunga kecombrang, dan cabai merah. 

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB

Geotrek Lintas Kars Citatah

Jumat, 14 Januari 2022 | 15:01 WIB

Adopsi Spirit Doll: Antara Tren, Sugesti, dan Delusi

Kamis, 13 Januari 2022 | 14:53 WIB

Rekor! Menlu AS Kunjungi 112 Negara

Selasa, 11 Januari 2022 | 15:15 WIB

Kehancuran Jati Diri Budaya yang Nyata

Minggu, 9 Januari 2022 | 12:22 WIB
X