Gudeg: Ikon Kuliner Jogjakarta, Kreasi Prajurit Mataram dan Simbol Perlawanan

- Jumat, 26 November 2021 | 08:15 WIB
Gudeg, sebelum jadi ikon kuliner Jogjakarta, ialah penemuan prajurit Mataram. Makanan ini mampu bertahan berhari-hari. (Badiatul Muchlisin Asti)
Gudeg, sebelum jadi ikon kuliner Jogjakarta, ialah penemuan prajurit Mataram. Makanan ini mampu bertahan berhari-hari. (Badiatul Muchlisin Asti)

Selain di Jogja, gudeg juga bisa dijumpai di berbagai kota di Indonesia.

Baca Juga: Hikayat Wedang Uwuh: Minuman Favorit Sultan dan Ikon Jogjakarta

Sejarah Gudeg, Kreasi Para Prajurit Mataram dan Simbol Perlawanan

Dalam buku Kuliner Sleman, Cita Rasa Lembah Merapi Bersemi Membangun Diri (2009) yang diterbitkan oleh Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Sleman disebutkan, dalam pustaka kuno Serat Chentini yang ditulis sekitar tahun 1800-an terdapat kata blegudeg yang dipercaya merupakan ungkapan bagi makanan yang sama dengan gudeg.

Disimpulkan, gudeg sudah ada sebelum zaman ditulisnya Serat Chentini tersebut, dan beredar di kalangan masyarakat di luar keraton. Konon, di zaman sebelum kemerdekaan, gudeg dijadikan sebagai iming-iming orangtua kepada anak yang sakit supaya segera sembuh.

Sejarah gudeg memang sangat panjang. Bahkan gudeg konon sudah ada sejak pendirian Jogjakarta. Murdijati Gardjito, seorang profesor dan peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gajah Mada (UGM), sebagaimana dikutip Historia (No. 35 Tahun III, 2017) menyatakan, setelah Perjanjian Giyanti, pada 1755 dilakukan permbersihan hutan oleh prajurit Kerajaan Mataram untuk membangun Jogjakarta.

Kota mulai dibangun di wilayah yang disebut Alas Bering atau yang sekarang menjadi Pasar Beringharjo. Di hutan, ditemukan banyak pohon kelapa, nangka, dan melinjo.

Para prajurit Mataram mencoba memasak nangka, kelapa yang diambil santannya, dan daun melinjo. Karena jumlah prajurit begitu banyak, mereka memasak dengan wadah semacam kuali besar yang terbuat dari logam.

Baca Juga: Wingko Babat, Kudapan Legit dari Lamongan yang Jadi Oleh-Oleh Khas Semarang

Dari pekerjaan mengaduk sepanjang waktu itu, proses memasaknya mereka sebut hangudeg. Masakannya disebut gudeg. Dari situlah awal mula gudeg yang memang asli Jogjakarta. Tak cuma itu, para prajurit Mataram juga menemukan, gudeg justru semakin enak jika makin dipanaskan dan bumbunya pun makin meresap. Gudeg juga bertahan berhari-hari.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB
X