Gudeg: Ikon Kuliner Jogjakarta, Kreasi Prajurit Mataram dan Simbol Perlawanan

- Jumat, 26 November 2021 | 08:15 WIB
Gudeg, sebelum jadi ikon kuliner Jogjakarta, ialah penemuan prajurit Mataram. Makanan ini mampu bertahan berhari-hari. (Badiatul Muchlisin Asti)
Gudeg, sebelum jadi ikon kuliner Jogjakarta, ialah penemuan prajurit Mataram. Makanan ini mampu bertahan berhari-hari. (Badiatul Muchlisin Asti)

Bagi masyarakat Jogja, gudeg cocok disantap kapan saja alias all day food. Gudeg bisa jadi menu sarapan di pagi hari, jadi menu makan siang, maupun makan malam. Dalam penyajiannya, gudeg biasanya disajikan dengan nasi hangat, krecek, telur pindang, dan disiram kuah areh di atasnya. Bisa juga ditambahkan lauk pauk tempe dan tahu bacem, ayam goreng, dan kerupuk rambak.

Dari segi bahan utama, gudeg terbagi ke dalam tiga macam ragam. Pertama; gudeg yang terbuat dari nangka muda yang biasa kita kenal. Gudeg inilah jenis gudeg awal yang kita kenal yang menjadi ikon kuliner Jogjakarta. Gudeg nangka ini bisa dijumpai di seantero Jogjakarta.

Bahkan gudeg nangka ini tidak hanya bisa dijumpai di Jogja, tapi juga di daerah lainnya seperti Solo, Semarang, bahkan sejumlah daerah di Jawa Timur. Cita rasanya tentu disesuaikan dengan lidah masyarakat setempat.  

Kedua; gudeg manggar yang terbuat dari manggar, yaitu putik bunga kelapa muda. Secara umum, gudeg manggar memiliki cita rasa yang sama dengan gudeg nangka muda, karena bumbu-bumbu yang dipakai sama. Bedanya terletak pada tekstur nangka muda yang lebih lembut dan empuk, sedangkan manggar memiliki tekstur lebih krenyes-krenyes. Gudeg manggar ini kreasi gudeg dari daerah Bantul.

Dan yang ketiga; gudeg yang terbuat dari keluwih. Gudeg keluwih ini biasa dimasak di lingkungan Keraton Jogjakarta. Menurut BRAy Nuraida Joyohadikusomo dalam buku Warisan Kuliner Keraton Yogyakarta (2008), gudeg dari Keraton Yogya berbeda dengan yang ada di luar keraton. Gudeg ala keraton menggunakan bahan keluwih, sedangkan di luar keraton berbahan dasar nangka muda.

Baca Juga: Lezatnya Pempek Khas Palembang, dari Penganan Adat Jadi Kudapan Favorit Nusantara

Gudeg-gudeg Legendaris  di Jogja

Gudeg sebagai kuliner paling ikonik di Jogjakarta sangat istimewa. Tahun 2015, gudeg ditetapkan sebagai warisan budaya nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia. Sebelumnya, gudeg juga masuk dalam daftar 80 Warisan Kuliner Nusantara versi Bango (2009).

Khusus gudeg manggar—sebagai varian dari gudeg ala Jogjakarta, juga tak kalah istimewa. Akhir bulan Oktober 2021 lalu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) menetapkan gudeg manggar sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Sebelumnya, Bondan Winarno memasukkan gudeg manggar ke dalam daftar 100 Mak Nyus Makanan Tradisional Indonesia (2013).

Di Jogjakarta—sebagai daerah tempat gudeg bermula—banyak ditemukan sejumlah gudeg legendaris. Salah satunya adalah gudeg Yu Djum. Yu Djum atau yang bernama asli Djuwariyah merintis bisnis kuliner gudeg sejak tahun 1951. Sejak usia 16 tahun, ia sudah membantu orangtuanya yang berjualan brongkos—yang juga salah satu kuliner khas Jogja.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB

Misteri Uga Bandung dan Banjir Dayeuh Kolot

Senin, 9 Mei 2022 | 12:02 WIB
X