Christiaan Johannes Brookman: Presiden LUNO dan Pilar SIDOLIG

- Kamis, 25 November 2021 | 17:33 WIB
Christiaan Johannes Brookman (1879-1953), terpilih berkali-kali menjadi presiden klub LUNO. Setelah menggabungkan diri dengan SIDOLIG (1933), ia terpilih menjadi salah seorang pilarnya. (Berretty, 1934: 112)
Christiaan Johannes Brookman (1879-1953), terpilih berkali-kali menjadi presiden klub LUNO. Setelah menggabungkan diri dengan SIDOLIG (1933), ia terpilih menjadi salah seorang pilarnya. (Berretty, 1934: 112)

Christiaan Johannes Brookman berkali-kali terpilih menjadi presiden atau ketua klub LUNO. Ia juga dianggap sebagai pilar SIDOLIG.

W.L. Berretty (40 Jaar Voetbal in Ned. Indie, 1894-1934, 1934: 112), menempatkan Ch. J. Brookman sebagai salah seorang di antara tiga “Eenige steunpilaren van SIDOLIG” alias beberapa pilar SIDOLIG.

Dua orang lainnya J.J.S. Brandsma dan C. Ebes. Mengenai Brandsma sudah saya tuliskan beberapa waktu yang telah lewat, sementara C. Ebes belum saya kumpulkan data-datanya.

Bila Brookman dianggap sebagai salah seorang dari triumvirat dari sebuah kesebelasan sepak bola yang termasuk tua dan melegenda di Bandung, berarti ada, bahkan banyak hal, yang sudah diberikan oleh dirinya. Ia bisa jadi banyak kontribusinya bagi klub tersebut khususnya dan umumnya bagi perkembangan sepak bola di Bandung.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya akan berusaha menelusuri data-data lama terkait dengan perikehidupan Ch. J. Brookman, yang menyangkut riwayat hidup, perjalanan pekerjaan, dan kegemarannya di dunia sepak bola.

Saya, sedikit banyak, juga akan menyampaikan apa yang membuat Brookman dijadikan sebagai salah seorang pilar SIDOLIG.

Baca Juga: SPARTA, Geng Hitam dari Cikudapateuh

Pengajar di Jawatan Kereta Api

Dari Watervlietstraat 58, Voorburg, Zuid Holland, Belanda, pada 11 Desember 1953, keluarga besar Brookman menyampaikan kabar kematian. Pada hari itu M.C.Brookman-Neyndorff, H.J. Brookman, T.M.C. Schotsman-Brookman, Dr. J.G.W. Schotsman, B. Sleebos-Brookman, F. Sleebos, E. Brookman, Yoya, Robbie, Enid mengabarkan suami, ayah, kakek, dan sepupu mereka telah meninggal.

Dalam berita yang disiarkan Het Vaderland (12 Desember 1953) itu disebutkan yang meninggal adalah Christiaan Johannes Brookman dalam usia 74 tahun. Semasa hidup, dia “Oud-leraar van de cursus Spoorwegen te Bandoeng” (mantan pengajar dalam kursus yang diselenggarakan jawatan kereta api di Bandung).

Dengan fakta-fakta itu kita jadi dapat menyimpulkan Ch. J. Brookman hidup dalam rentang waktu antara 1879 hingga 1953. Dalam rentang panjang tersebut, dia pernah bekerja pada jawatan kereta api di Bandung. Hal ini sesuai dengan data yang saya temukan dari genealogieonline.nl. Di situ dinyatakan Brookman lahir di Batavia pada 17 Juli 1879 dan meninggal di Voorburg pada 11 Desember 1953.

Pada tulisan lain, dalam situs yang sama, ketemu pula kepanjangan serta identitas M.C.Brookman-Neijndorff, notabene istri Brookman. Dialah Maria Cornelia Neijndorff (1886-1963), yang lahir pada 4 April 1886 di Madiun, Jawa Timur dan meninggal pada 30 September 1963 di Voorburg.

Sedangkan rekaman pekerjaan Brookman dapat disimak dari pemberitaan sekitar pengangkatan, kenaikan gaji, dan pemindahan tempat kerjanya dalam koran-koran Belanda sejak awal abad ke-20. Data paling lama berasal dari 1910. Di situ dibilang Brookman lulus ujian jawatan kereta api (De S. S. Examens) di pusat jalur barat di Bandung, terutama untuk Examen A (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, HNDNI, 4 Januri 1910).

AID De Preanger-bode (6 Februari 1911) mengabarkan kenaikan gaji Brookman, sebagai komis stasiun di Bandung, menjadi 25 gulden per bulan. Sebulan berikutnya, dia mendapatkan gratifikasi sebesar 25 gulden atas kinerja luar biasa yang ditunjukkannya (AID, 31 Maret 1911).

Dalam AID edisi 30 November 1915, ada warta mutasi para pegawai jawatan kereta api demi kursus keahlian. Dalam berita itu disebutkan pada 1 Desember 1915 akan diselenggarakan lagi kursus latihan CII dan CII yang diperuntukkan bagi 25 orang calon kepala halte. Demi kursus itu, kepala pengawas telegraf H.C.A. Berkholst akan menjadi penanggung jawabnya. Sementara Brookman, sang komis stasiun, menjadi asisten pengajar dan memberikan pelajaran ihwal transportasi dan jadwal kereta api (“in vervoers- en treindienstbepalingen”).

Alhasil, Brookman sudah sejak akhir 1915 menjadi tenaga pengajar dalam kursus yang diselenggarakan jawatan kereta api di Bandung. Namun, selain itu, ia juga aktif dalam organisasi para pegawai jawatan kereta api yang konon dibentuk lagi pada 1920 (AID, 24 Juni 1920). Bahkan Brookman terpilih menjadi ketua Staatsspoorbond itu. Untuk  afdeeling Bandoeng van den Staatsspoorbond yang menjadi ketuanya adalah G.L. Touset (AID, 22 September 1920).

Pekerjaan Brookman di Bandung berakhir pada 1938. Karena sejak Juli 1938, ia tercatat menjadi warga Cirebon. Dalam Bataviaasch Nieuwsblad (13 Juli 1938) disebutkan minggu lalu ada perubahan kependudukan Cirebon, yakni dengan bertambahnya warga baru. Di antara yang disebutkan pindah ke sana adalah Brookman yang berasal dari Bandung.

Baca Juga: Letnan Cornelis Ouwehand, Wasit Sepak Bola Menjadi Direktur Pekerjaan Umum

Presiden LUNO dan Anggota Kehormatan BVB

Dalam kapasitasnya sebagai pegawai kereta api di Bandung tidak aneh bila Christiaan Johannes Brookman ikut terlibat dalam perkembangan sepak bola. Karena para pegawai kereta api di Bandung sudah mendirikan klub sepak bola secara mandiri paling tidak sejak 1905. Sementara yang perseorangan sudah terlibat sejak sepak bola pertama kali digulirkan di Bandung pada 1900 melalui klub Bandoengsche Voetbal Club (BVC). Dalam klub tersebut antara lain ada Roelofsen dan Staargaard yang sama-sama pegawai jawatan kereta api.

Meski tidak secara sinambung mengikuti berbagai ajang kompetisi di Bandung, klub jawatan kereta api nampaknya terus bertahan paling tidak hingga 1 Maret 1917. Saat itu, nama klubnya berganti menjadi Sportvereeniging LUNO (“Laat U Niet Overwinnen”, jangan biarkan kau terkalahkan). Namun, dalam catatan situs rsssf.com, LUNO baru masuk kompetisi pada 1919, karena pada 1918 masih menggunakan nama SS.

Dalam klub LUNO inilah Brookman aktif sebagai organisator sepak bola. Ia bersama-sama Tielman secara gigih berjuang keras agar tidak terdegradasi dari kompetisi sepak bola di Bandung (AID, 16 Agustus 1919). Bahkan, kemudian, Ch. J. Brookman berkali-kali terpilih menjadi presiden atau ketua klub LUNO. Hingga 1924 ia masih tercatat sebagai ketua LUNO. Demikian pula dalam rapat pada 20 Maret 1927, ia terpilih lagi secara aklamasi sebagai ketua LUNO.

Di bawah kepimpinannya, LUNO dibawa menjadi anggota Bandoengsche Voetbal Bond (BVB) dan Brookman sendiri sejak awal berdirinya federasi tersebut turut bekecimpung. Mengenai keterlibatannya di BVB dapat disimak dalam AID (27 Agustus 1924). Selain disebut-sebut secara ringkas identitas LUNO, di situ juga kerap kali disebut nama Brookman. Bahkan Brookman sendiri menulis sambutan bagi AID edisi khusus sepuluh tahun BVB itu.

Dalam rangka peringatan hari ulang tahun kesepuluh itu, ketua BVB W.A. Spier (“BVB 11 Juli 1914-1924”) mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para koleganya yang bekerja keras agar federasi tersebut tetap eksis. Spier secara khusus menyoroti peran “oude rotten” alias tangan-tangan lama seperti Brookman, Weber dan Melsen bagi BVB.

Brookman sendiri sebagai anggota kehormatan (Eere-lid) BVB yang menulis sambutan “Een Wensch” (harapan). Ia sangat berharap agar BVB menjadi federasi nomor satu dibandingkan dua perserikatan lainnya yang ada di Pulau Jawa (“de eerste plaats inneemt onder 3e voetbalbonden hier op Java”).

Berkaitan dengan anggota kehormatan BVB, Ch. J. Brookman adalah orang pertama yang mendapatkan status itu. Konon, pada rapat umum BVB pada 17 Desember 1922, Brookman yang sudah lima tahun berturut-turut menjadi sekretaris merangkap bendahara perserikatan akan izin cuti ke Eropa. Untuk menghormati ketidakhadiran Brookman, pengurus BVB mengangkatnya sebagai anggota kehormatan. Oleh karena itu, dialah yang pertama kali menjadi anggota kehormatan BVB (“De heer Brookman was het eerste eere-lid van den bond”), yang nanti disusul oleh Nico Vink pada 19 Agustus 1923.

Baca Juga: LUNO, Klub yang Menyatukan Diri dengan SIDOLIG

Bila demikian halnya, pantas belaka bila Berretty menyebut-nyebut Brookman sebagai salah seorang pilar SIDOLIG.

Karena dengan semangat yang terus menyala-nyala, tetapi keadaan memaksa LUNO untuk tiaraf, Ch. J. Brookman nampaknya berinsiatif untuk menggabungkan klub eks-SS itu ke dalam SIDOLIG.

Dengan demikian, sebenarnya, dapat dibilang Brookman secara tidak langsung masih tetap mempertahankan eksistensi LUNO. [*]

 

Konten ini dibuat oleh Atep Kurnia

Peminat literasi dan budaya Sunda

Isi konten merupakan tanggung jawab penulis

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X