Waspada Rob dan Banjir Bebatuan di Lereng Gunung, Siaga Akhir hingga Awal Tahun

- Kamis, 25 November 2021 | 15:50 WIB
Rob sesungguhnya sudah terjadi sejak lama setiap akhir dan awal tahun. Sementara itu, banjir bebatuan juga mengancam di lereng gunung. (Ayobandung.com/Fuad Mutashim)
Rob sesungguhnya sudah terjadi sejak lama setiap akhir dan awal tahun. Sementara itu, banjir bebatuan juga mengancam di lereng gunung. (Ayobandung.com/Fuad Mutashim)

Rob sesungguhnya sudah terjadi sejak lama setiap akhir dan awal tahun. Sementara itu, banjir bebatuan juga mengancam di lereng gunung.

Sesungguhnya masyarakat sudah lama mengetahui, bahwa benda-benda langit seperti bulan dan matahari berpengaruh nyata pada alam fisik bumi serta penghuninya.

Misalnya adanya pasang naik dan pasang surut yang terjadi setiap hari. Demikian juga pengaruh Matahari pada kehidupan di Bumi. Ada perubahan sedikit saja di Matahari, maka Bumi tempat manusia dan kehidupan lainnya, akan mengalami dampak nyata dari semua perubahan itu.

Seperti halnya pengaruh Bulan yang menimbulkan pasang naik, Matahari pun berpangaruh pada Bumi. Apalagi pada saat posisi Bumi mencapai jarak terdekat dengan Matahari (perihelium), yang terjadi setiap akhir hingga awal tahun, yang terjadi setiap tanggal 3 Januari, dan mencapai titik terjauhnya (aphelium) pada tanggal 4 Juli.

Setiap hari, terjadi pasang surut dan pasang naik. Dan setahun sekali terjadi perihelium yang dapat meninggikan air laut. Secara bersamaan, pada bulan-bulan Desember – Januari itu, Indonesia mengalami musim penghujan, sehingga air sungai jumlahnya akan bertambah. Keadaan naiknya air laut itu sesungguhnya sudah terjadi secara alami, dan sudah dirasakan sejak lama, sebagai proses dari alam dalam sisten Tata Surya.

Terbukti, sudah ada istilah rob, yang digunakan oleh para penutur bahasa  Kawi. Namun, mengapa saat ini peristiwa alam seperti perihelium, musim barat, menjadi ancaman atau musibah bagi manusia? Artinya ada faktor lain yang terjadi dipermukaan bumi, yang menyebabkan peristiwa alam itu menjadi hal yang perlu diwaspadai.

Peristiwa alam di Tata Surya yang begitu adanya dan setiap waktu terjadi, saat ini seolah menjadi penyebab masalah. Sesungguhnya itu bukan sebab, karena merupakan bagian yang tak bisa ditolak. Sesungguhnya hakekat dari segala permasalah itu terletak pada kerusakkan lingkungan hidup, yang sudah dihancurkan dengan penuh kesadaran oleh manusia penghuninya. Kehancuran tata ekologis itulah yang akan menimbulkan ketidak selarasan. Ketidak selarasan alam itulah yang menimbulkan bencana, dan manusia, yang akan menerima getah dari segala perbuatan melabrak hukum-hukum alam itu.

Rob merupakan perpaduan antara berbagai gejala alam, seperti pasang naik, perhelium, dan yang utama karena kehancuran ekologis. Bila peristiwa astronomis itu memang sudah begitu adanya, peredaran Bumi, Bulan, Matahari, dari waktu ke waktu teratur peredarannya, maka beragam bencana yang terjadi saat ini menyiratkan telah terjadinya gangguan di Bumi yang berupa kehancuran ekologis.

Masyarakat sudah sejak lama mengetahui bagaimana hutan ditebas habis dengan penuh kesadaran. Hutan alam berganti hutan produksi yang setiap musim ditebang, lalu ada waktu jeda berbulan-bulan, kemudian berganti tanaman sayur di kawasan dengan kemiringan yang curam serta tatakelola lahan yang keliru. Kalau mau jujur menghitung, berapa Negara menerima pemasukan dari pajak hutan produksi, dari sewa lahan untuk menanam sayur, dibandingkan dengan kehilangan tanah pucuk dan kerugian akibat kekeringan, banjir, longsor, banjir lumpur yang terjadi merata di setiap daerah, yang telah menimbun persawahan, menghilangkan lahan, menimbun permukiman, harta benda, dan manusia.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB
X