Ketahanan Keluarga Kian Rapuh, Sistem Islam Mewujudkan Keluarga Tangguh

- Rabu, 24 November 2021 | 15:44 WIB
Permasalahan keluarga atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), yang kerap muncul di Kabupaten Bandung, termasuk permasalahan kategori berat. (Pixabay/congerdesign)
Permasalahan keluarga atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), yang kerap muncul di Kabupaten Bandung, termasuk permasalahan kategori berat. (Pixabay/congerdesign)

Permasalahan keluarga atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), yang kerap muncul di Kabupaten Bandung, termasuk permasalahan dalam kategori berat.

Oleh karena itu, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung mengusulkan pembentukan peraturan daerah (perda) tentang ketahanan keluarga.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung, Muhammad Hairun mengatakan, kasus yang menyangkut permasalahan keluarga yang terjadi di Kabupaten Bandung ini berat. Diantaranya, fenomena pernikahan anak yang cukup banyak. (Jabar Ekspres, 20/11/2021)

Dari tahun ke tahun, angka perceraian di Indonesia memang terus meningkat. Begitu pun di Jawa Barat sendiri. Penyebabnya lebih banyak didominasi faktor perselisihan yang terus menerus, masalah ekonomi, dan penelantaran salah satu pihak. Di dalam faktor-faktor ini ada beberapa varian kasus. Misal, karena ada perbedaan prinsip, KDRT, perselingkuhan, perbedaan pandangan politik, bahkan akibat terlalu sibuk dengan medsos, dan lain-lain.

Diantara maraknya kasus perceraian sesungguhnya bisa menjadi salah satu bukti bahwa struktur dan ketahanan keluarga di negeri muslim ini makin lama makin rapuh. Ikatan keluarga tak lagi menggambarkan sebuah perjanjian yang teguh (mitsaqan ghaliza) dan sakral, melainkan seperti akad muamalat yang bisa dengan mudah dibatalkan.

Selain perceraian, masih banyak problem yang menunjukkan bahwa ketahanan keluarga di negeri ini sedang melemah atau kian terancam. Merebaknya kemiskinan dan pengangguran. Dekadensi moral termasuk perselingkuhan pasangan menikah dan free sex di kalangan remaja yang kian membudaya. Pelaku penyimpangan seksual dan kasus-kasus incest yang juga kian mencuat. Semuanya mengindikasikan ada yang salah dengan ketahanan keluarga kita.

Padahal merujuk pada UU No. 10 Tahun 1992, ketahanan keluarga sendiri didefinisikan sebagai kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan, serta mengandung kemampuan fisik-material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri, dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dan meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin.

Dari definisi ini, nampak bahwa ketahanan keluarga meliputi banyak aspek. Mulai dari aspek kekuatan spiritualitas, aspek ketahanan psikologis dan mentalitas, aspek kemandirian ekonomi, serta aspek keharmonisan pola relasi antar anggota keluarga, terutama suami dan istri. Aspek-aspek itulah yang sejatinya akan mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin dalam sebuah keluarga.

Masalahnya, kondisi ideal ini menjadi sulit diwujudkan di tengah situasi yang karut-marut seperti saat ini. Penerapan sistem sekuler kapitalisme telah memunculkan berbagai krisis multidimensi yang mengganggu pola relasi antaranggota keluarga dan ujung-ujungnya menggoyah bangunan keluarga hingga rentan perpecahan. Bahkan tak hanya struktur keluarga yang goyah. Tapi masyarakat pun ikut goyah. Padahal antara keluarga dan masyarakat keduanya tak bisa dipisahkan. Satu sama lain bisa saling berpengaruh, apakah melemahkan atau menguatkan.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB

China Belajar dari Perang di Ukraina

Selasa, 10 Mei 2022 | 09:31 WIB
X