Wingko Babat, Kudapan Legit dari Lamongan yang Jadi Oleh-Oleh Khas Semarang

- Selasa, 23 November 2021 | 09:15 WIB
Meski masyhur sebagai oleh-oleh khas Semarang, tapi wingko babat sebenarnya bukan kudapan asli Semarang. Wingko babat datang dari Lamongan. (Badiatul Muchlisin Asti)
Meski masyhur sebagai oleh-oleh khas Semarang, tapi wingko babat sebenarnya bukan kudapan asli Semarang. Wingko babat datang dari Lamongan. (Badiatul Muchlisin Asti)

Saat penggemar wingko babat buatan Loe Lan Hwa semakin banyak, maka terpikirlah untuk memberi merek. Wingko babat itu pun diberi merek “Kereta Api” karena lokus awal tempat jualan wingkonya adalah di Stasiun Tawang.

Setelah wingko babat cap Kereta Api semakin populer, selain cap, juga dicantumkan alamat pada kemasan atau bungkus wingkonya.  Alamat itu dahulu tertulis  Oosterwal Straat 14, lalu berubah menjadi Jalan Purwodinatan Timur, hingga terakhir atau saat ini, berubah menjadi Jalan Cendrawasih No. 14, Semarang.

Di alamat terakhir itulah, saat ini sekaligus dijadikan sebagai pusat Wingko Babad cap Kereta Api, sekaligus menjadi toko oleh-oleh yang legendaris di kota Semarang. Saat ini wingko babat cap Kereta Api telah beralih ke generasi keempat dan tetap mempertahankan cita rasa yang khas dari resep warisan keluarga.

Berbeda dengan wingko umumnya yang ada di kota Babat, Lamongan, wingko di Semarang berukuran lebih kecil. Mungkin agar lebih praktis dalam sekali santap. Sebagai pilihan rasa, saat ini wingko babad cap Kereta Api menyediakan lima varian rasa. Selain original, juga ada rasa nangka, coklat, pisang raja, dan durian. 

Meski saat ini produsen wingko babat semakin banyak jumlahnya dengan beragam merek, namun wingko babat cap Kereta Api tetap dikenang sebagai pelopor wingko babat di kota Semarang. [*]

 

Konten ini dibuat oleh Badiatul Muchlisin Asti

Pegiat literasi, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat kuliner tradisional Indonesia

Isi konten merupakan tanggung jawab penulis

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB

Para Pejabat Cicalengka Tahun 1871-1923

Jumat, 3 Juni 2022 | 15:02 WIB
X