Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

- Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB
Menhan Letjen ( Purn) Prabowo Subianto menjadi pembicara utama pada konferensi itu. Dirjen IISS Dr. John Chipman memperkenalkannya. (thebluediamondgallery/Nick Youngson)
Menhan Letjen ( Purn) Prabowo Subianto menjadi pembicara utama pada konferensi itu. Dirjen IISS Dr. John Chipman memperkenalkannya. (thebluediamondgallery/Nick Youngson)

Menhan Letjen ( Purn) Prabowo Subianto menjadi pembicara utama pada konferensi itu. Dirjen IISS Dr. John Chipman memperkenalkannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kekhawatiran  gejolak di Laut Cina Selatan (LCS) akan bergerak ke arah yang tak terduga. Padahal LCS memiliki posisi strategis, barang siapa menguasainya akan mencekik negara-negara yang selama ini memanfaatkannya.

Peningkatan kehadiran militer dan klaim China terhadap kepulauan Spratly, Paracel di LCS serta batas laut sangat meresahkan negara-negara yang berhampiran.

China tampaknya sengaja merancang pengakuan sepihak dengan baik. Caranya menggunakan ratusan bahkan ribuan kapal nelayan yang berteknologi canggih untuk menangkap ikan di wilayah yang diakuinya. Untuk melindungi, China menampilkan bukan kapal perang tetapi kapal-kapal penjaga pantai atau Coast Guard.

Pola serupa itu yang  dihadapi Pilipina, Vietnam dan  Malaysia di LCS . Khusus  Indonesia di laut Natuna Utara.

Kondisi inilah yang mengundang Amerika Serikat dan negara-negara luar kawasan Asia Tenggara untuk melibatkan diri. Dalihnya, menjaga kebebasan navigasi di LCS. Tujuan pokoknya mengatasi perluasan pengaruh dan mencegah citra China lebih baik dari negara-negara kapitalis.

Dua Aspek 

Klaim dan pembangunan pangkalan militer China di LCS dapat dilihat dari dua aspek. (1) Sebagai konsekuensi logis untuk menjamin kemajuan perekonomiannya.(2) Sebagai upaya China untuk mendominasi  dan sewaktu-waktu memblokade LCS hingga menganggu kepentingan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya .

Dua hal itulah yang menjadi alasan AS mengkampanyekan kerjasama multilateral untuk 'menghalangi ‘ ambisi China. Sekaligus memuaskan nafsu industri militer  Amerika Serikat yang memerlukan  konflik atau minimal persaingan ekstrem dari waktu ke waktu.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB
X