Hikayat Wedang Uwuh: Minuman Favorit Sultan dan Ikon Jogjakarta

- Minggu, 21 November 2021 | 15:04 WIB
Hikayat wedang uwuh memiliki beberapa versi. Salah satu versi yang populer adalah terkait dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo. (Badiatul Muchlisin Asti)
Hikayat wedang uwuh memiliki beberapa versi. Salah satu versi yang populer adalah terkait dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo. (Badiatul Muchlisin Asti)

Hikayat wedang uwuh memiliki beberapa versi. Salah satu versi yang populer adalah terkait dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Indonesia terberkahi oleh khazanah kuliner yang sangat kaya. Tidak hanya berupa makanan, tapi juga minuman. Setiap wilayah di Indonesia memiliki minuman tradisional khasnya masing-masing. Kekayaan alam yang melimpah menjadikan hampir setiap wilayah memiliki minuman tradisional yang di Jawa lazim disebut wedang—minuman yang disajikan panas atau hangat, yang biasanya juga memiliki manfaat untuk kesehatan.

Aceh punya teh tarek,  Sumatra Barat punya teh talua, Jakarta punya bir pletok, Jawa Barat punya bandrek dan bajigur, Jawa Tengah punya wedang coro dan wedang blung, Jawa Timur punya wedang angsle, dan seterusnya.

Jogjakarta sebagai kota yang populer sebagai Kota Seni dan Budaya—karena memiliki kekayaan budaya warisan leluhur yang beragam—juga punya minuman tradisional yang khas. Salah satunya adalah wedang uwuh. Wedang uwuh adalah minuman tradisional dengan bahan-bahan berupa dedauan dan rimpang serta serutan kayu yang diyakini memiliki sejumlah khasiat bagi kesehatan.

Wedang uwuh berasal dari daerah dalam makam raja-raja Mataram (Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta). Makam raja itu terletak di puncak perbukitan di wilayah Dusun Pajimatan, Imogiri, Bantul, DI Jogjakarta. Makam dibangun sejak pemerintahan Sultan Mataram III, Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1632.

Wedang Uwuh dan Pengembangannya

Wedang uwuh saat ini sudah banyak dikembangkan oleh masyarakat Jogjakarta untuk tujuan komersial dalam skala home industry kecil maupun menengah. Wedang uwuh pun sudah dikembangkan dalam bentuk penyajian yang lebih praktis dan kemasan yang lebih “menjual” (marketable). Wedang uwuh kemasan dengan berbagai variannya dapat dengan mudah ditemui di pelbagai angkringan, warung makan, rumah makan, kafe, restoran, hingga di toko oleh-oleh dan supermarket.

Wedang uwuh  yang beredar di masyarakat, setidaknya terbagi menjadi dua: Pertama; wedang uwuh yang tanpa diberi serutan kayu secang atau biasa disebut wedang cengkeh. Bahannya meliputi: jahe, daun cengkeh, daun pala, kayu manis, dan batang cengkeh. Dan kedua; wedang uwuh dengan tambahan serutan kayu secang. Bahannya sama dengan yang pertama, hanya diberi tambahan serutan kayu secang. Tambahan kayu secang ini membuat warna minuman menjadi merah, sehingga lebih menarik dan menggugah selera.

Jahe yang digunakan untuk wedang uwuh bisa jahe segar, bisa pula jahe kering. Di pasaran, banyak ditemui wedang uwuh dengan jahe kering. Penggunaan jahe kering pada wedang uwuh umumnya dibuat untuk kepentingan komersial, dengan pertimbangan umur simpannya lebih lama, sehingga jangkauan pemasarannya bisa lebih luas.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB

Pahlawan Big Data di Tengah Pandemi

Jumat, 19 November 2021 | 21:55 WIB

Proses Terbentuknya Karanghawu

Jumat, 19 November 2021 | 15:37 WIB
X