Pahlawan Big Data di Tengah Pandemi

- Jumat, 19 November 2021 | 21:55 WIB
Sosok pahlawan big data yang menyebarluaskan konten-konten positif dan memerangi konten negatif sangat diperlukan negeri ini.  (Alpha Stock Images/Nick Youngson)
Sosok pahlawan big data yang menyebarluaskan konten-konten positif dan memerangi konten negatif sangat diperlukan negeri ini. (Alpha Stock Images/Nick Youngson)

Sosok pahlawan big data yang menyebarluaskan konten-konten positif dan memerangi konten negatif sangat diperlukan negeri ini. 

Menjadi pahlawan bukan berarti harus mati di medan perang. Kita semua bisa menjadi pahlawan. Kita ibarat sebuah ikatan cinta yang membuahkan kasih dalam bentuk perjuangan.

Perjuangan untuk lepas dari jeratan pandemi yang kedatangannya tidak ada yang mengharapkan. Yang kedatangannya menjadikan kita banyak belajar. Menjadikan kita berarti dan menuntut kita untuk menjadi pahlawan.

Pahlawan dalam arti ikut berkontribusi dalam memerangi setiap celah kecil yang mendatangkan penyakit di diri kita dan lingkungan sekitar. Pahlawan yang mampu memanfaatkan maha data (baca: big data) untuk bangkit dari pandemi yang melanda.

Mengutip perkataan Mohammad Natsir, "Untuk mencapai sesuatu, harus diperjuangkan dulu. Seperti mengambil buah kelapa, dan tidak menunggu saja seperti jatuh durian yang telah masak.” Setiap perjuangan itu ada prosesnya. Seperti halnya perjuangan kita untuk keluar dari COVID-19. Ini tentunya tidak instan (baca: cepat).

Namun, kita semua bisa menjadi sosok pahlawan. Pahlawan dalam menerapkan protokol kesehatan 5M (Memakai Masker; Mencuci Tangan; Menjaga Jarak; Menjauhi Kerumunan; Membatasi Mobilisasi). Pahlawan yang optimis kita mampu keluar dari pandemi ini.

Bisakah kita terbang bebas dari pandemi ini? Tentunya inilah pertanyaan yang terbesit di benak kita semua. Namun, keluar dari pandemi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya kedatangannya ini memang tidaklah mudah. Semua perlu proses. Ibarat saat kita ingin melihat seekor kupu-kupu yang cantik.

Kita perlu melewati fase dimana muncul telur terlebih dahulu, lalu ulat, kepompong, dan akhirnya kupu-kupu. Begitu pun Indonesia. Sejak kedatangan pandemi di triwulan pertama 2020, berbagai sektor mulai terdampak. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai melandai dan akhirnya mulai terkontraksi pada triwulan kedua 2020. Kondisi ini memaksa kita untuk belajar dan beradaptasi walaupun dengan kerikil-kerikil yang masih mengganjal.

Perbaikan ekonomi perlahan terwujud. Seperti diungkapkan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa Ekonomi Indonesia triwulan II-2021 terhadap triwulan II-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 7,07 persen (y-on-y). Capaian tersebut berlanjut pada triwulan berikutnya dimana ekonomi Indonesia juga tumbuh positif sehingga secara kumulatif, ekonomi Indonesia meningkat 3,24 persen (c-to-c) sepanjang Januari-September 2021.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB

Pahlawan Big Data di Tengah Pandemi

Jumat, 19 November 2021 | 21:55 WIB

Proses Terbentuknya Karanghawu

Jumat, 19 November 2021 | 15:37 WIB
X