Proses Terbentuknya Karanghawu

- Jumat, 19 November 2021 | 15:37 WIB
Proses terbentuknya Karanghawu ini dimulai ketika air meteorik yang tercurah di kawasan ini meresap sampai jauh ke dalam batukarang. (T. Bachtiar)
Proses terbentuknya Karanghawu ini dimulai ketika air meteorik yang tercurah di kawasan ini meresap sampai jauh ke dalam batukarang. (T. Bachtiar)

Proses terbentuknya Karanghawu ini dimulai ketika air meteorik yang tercurah di kawasan ini meresap sampai jauh ke dalam batukarang.

Dari jarak dekat, tidak nampak jelas, mengapa bentukan batukarang ini seperti hawu atau tungku. Hanya terlihat kemegahan dinding tegak berarah barat-timur, dengan lubang samping yang besar di tengahnya.

Ditafsirkan, lubang itulah mulut tungku tempat kayubalar dimasukan. Satu lubang tegak di atasnya, ditafsirkan sebagai lubang apinya.

Bila masih belum memberikan gambaran menyeluruh seperti tungku, sebauknya mundurlah sedikitnya 100 meter ke selatan. Dari lereng atau puncak bukit di selatan lembah Ci Bukur, barulah dapat dimengerti mengapa karuhun kita menyebutnya Karanghawu. Ada bentukan dengan satu lubang di lereng selatan, dengan satu lubang api di atasnya, dengan wujud yang benar-benar seperti tungku. Seperti hawu.

Dinding tegak yang megah inilah yang biasa dijadikan tempat latihan memanjat disamping dinding lainnya di Citatah, seperti yang berada di baliknya yang menghadap ke utara, yaitu dinding Pasir Pabeasan. Goa vertikalnya yang dianalogikan sebagai lubang api dari tungkunya, biasa dijadikan tempat berlatih untuk menuruni goa vertikal. Bila antar dinding itu direntangkal tali, menjadi tempat berlatih pada peminat slackline, olahraga yang dapat melatih keseimbangan dengan cara berjalan di atas tali.  

Bentukan alam yang luarbiasa ini, selain menjadi kampus lapangan dan lab bagi ilmu-ilmu kebumian, juga dapat menjadi gelanggang alam bagi olehraga panjat tebing, slackline, dan terjunpayung dari ketinggian menara alam bukit karang.

Baca Juga: Nagrak Tetap Menjadi Sabuk Hijau Adalah Keniscayaan

Proses terbentuknya Karanghawu ini dimulai ketika air meteorik yang tercurah di kawasan ini meresap sampai jauh ke dalam batukarang. (T. Bachtiar)

Karanghawu berada di Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Tempat ini belum banyak dikunjungi seperti halnya ke tamanbatu di puncak Pasir Pawon. Kemegahan bentukan alamnya yang langka, berada di selatan Pasir Pabeasan. Para pemanjat tebing, pendaki gunung, peminat geotrek, dan slackline, sudah sangat mengenal kawasan ini dengan segala karakteristik tebingnya.

Bentukan yang seperti tungku di kawasan kars Citatah, Karanghawu adalah yang terbesar. Di sisi timur, terlihat lapisan-lapisan endapan batukarang yang terbentuk 27-23 juta tahun, keadaan alaminya miring ke selatan. Di antara lapisan-lapisan itu terdapat celah dan sangat tipis, namun memungkinkan akan rambut dan air dapat meresap sampai ke dalam. Inilah yang menjadi faktor utama mengapa lubang tungkunya menghadap ke arah selatan.

Proses terbentuknya Karanghawu ini dimulai ketika air meteorik yang tercurah di kawasan ini meresap sampai jauh ke dalam batukarang melalui akar tumbuhan dan celah pada lapisan batukarang.

Air itu kemudian merambat sampai jauh ke dalam batukarang. Dalam perjalanan waktu yang sangat lama, berpuluh juta tahun, air yang terhimpun di celah-celah dan dalam rekah, kemudian melarutkan batukarang secara perlahan.

Baca Juga: Citatah sebagai Lab Kebumian dan Pusat Pendidikan Panjat Tebing Alam

Proses pelarutan terus berjalan setiap saat, celah membesar menjadi rongga, kemudian menjadi lubang-lubang yang terus membesar menjadi goa. Dalam proses waktu yang sangat lama, berpuluh juta tahun, kemudian membentuk goa yang memanjang datar, dan berakhir di dinding, membentuk gerbang yang terbuka ke udara.

Sedangkan yang semula berupa goa yang berlubang tegak, ketika atap goanya tegak ambruk, maka terbentuklah goa vertikal yang terbuka, seperti sumur. Goa yang berbentuk seperti sumur, disertai dengan lubang yang mendatar, menembus dinding sampai ke luar, maka terbentuklah apa yang kemudian dinamakan Karanghawu. [*]

 

Konten ini dibuat oleh T. Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung

Isi konten merupakan tanggung jawab penulis

Halaman:
1
2
3

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB

Geotrek Lintas Kars Citatah

Jumat, 14 Januari 2022 | 15:01 WIB

Adopsi Spirit Doll: Antara Tren, Sugesti, dan Delusi

Kamis, 13 Januari 2022 | 14:53 WIB

Rekor! Menlu AS Kunjungi 112 Negara

Selasa, 11 Januari 2022 | 15:15 WIB
X