Nopia: Oleh-Oleh Khas Purbalingga, Diperkenalkan Keturunan Etnis Tionghoa Sejak 1880-an

- Kamis, 18 November 2021 | 17:32 WIB
Nopia diperkenalkan pertama kali oleh keluarga keturunan etnis Tionghoa pada 1880-an; dan kini jadi oleh-oleh khas Purbalingga. (Foto Badiatul M. Asti)
Nopia diperkenalkan pertama kali oleh keluarga keturunan etnis Tionghoa pada 1880-an; dan kini jadi oleh-oleh khas Purbalingga. (Foto Badiatul M. Asti)

Nopia ditempel di dinding oven tanpa perekat. Nopia menempel di dinding oven karena bantuan terigu. Untuk itu, terigu yang digunakan harus bagus, tidak terigu dengan kualitas buruk. Proses pemanggangan berlangsung sekitar 15 menit sampai nopia matang.

Nopia memiliki tektur keras di luar, namun setelah digigit, bagian tengahnya keropos dan rasa manis dari gula jawa akan langsung terasa. Untuk daya tahan, nopia bisa tahan 3 – 4 bulan meski tanpa pengawet.

Selain Nopia, adapula mino, akronim dari mini nopia alias nopia berukuran kecil. Nopia dan mino adalah sebutan untuk jenis kue yang sama, yang membedakan hanyalah ukurannya. Nopia adalah sebutan untuk yang berukuran besar, sehingga sering juga disebut sebagai ndog gludhug (telur petir), atau ndog penyu (telur penyu), atau juga ada yang menyebutnya ndog gajah (telur gajah). Sedangkan mino, berukuran lebih kecil.

Baca Juga: Sejarah Sayur Asem, Sajian Otentik Kreasi Rakyat Indonesia di Masa Kolonial Belanda

Nopia diperkenalkan pertama kali oleh keluarga keturunan etnis Tionghoa pada 1880-an. Versi awal penganan ini menggunakan isian daging babi atau bawang goreng, lalu diubah dengan bahan baku halal khas Jawa, yakni gula merah dan bawang merah goreng. Dari situ banyak warga lokal yang mencarinya. Seiring terus populernya nopia, akhirnya banyak masyarakat yang mulai ikut memproduksinya.

Di Banyumas, Kampung Nopia Mino berada di RT 3 RW 4, Desa Pakunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Lokasinya berjarak sekitar 1 kilometer dari Alun-alun Banyumas. Selain bisa membeli nopia sebagai oleh-oleh, di kampung ini bisa juga melihat proses pembuatan nopia secara langsung. Kampung Nopia Mino dikenal sebagai wisata berbasis home industry, resmi berdiri pada bulan Juli 2018 dengan tujuan mengenalkan nopia sekaligus meningkatkan taraf perekonomian warga.

Di Purbalingga semdiri, ada pabrik nopia rumahan dengan merek Nopia Asli yang didirikan oleh Ting Ping Siang pada tahun 1940-an. Dikutip dari spektakel.id, awalnya nopia yang dibuat Ting Ping Siang tidak punya merek dagang. Dijual satuan di pasar dengan bungkus kertas koran bekas.

Baru tahun 1950, ketika usaha ini diturunkan ke anaknya, Ting Lie Liang (Sudibyo Andrianto), merek Nopia Asli dengan kemasan dibuat. Merek lengkapnya: Nopia Asli Ting Lie Liang. Variasi rasa meliputi: cokelat, nanas dan durian. Nopia Asli hari ini dijalankan oleh anak Ting Lie Liang, Matius Hirawan Andrianto, sejak 1990 hingga saat ini.

Dapur masak Nopia Asli masih orisinal sejak awal usaha ini berdiri. Cara masaknya pun tetap konsisten dengan tradisinya, menggunakan tungku panggang berbentuk menara setinggi paha orang dewasa, dipanggang dengan suluh blukang atau pelepah daun kelapa yang dipercaya dapat menjaga konsistensi rasa.

Tungku ini dipanaskan terlebih dahulu dengan membakar suluh blukang di bagian dalam. Setelah dirasa cukup, bara suluh blukang diambil dan bagian dalam tungku dibersihkan, barulah adonan siap masak ditempel ke dinding tungku. Suhu yang terlalu tinggi akan membuat nopia gosong, sementara suhu yang kurang akan membuat adonan tidak mau menempel.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mempelajari Karakter Orang Melalu Kebiasannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB

Geotrek Lintas Kars Citatah

Jumat, 14 Januari 2022 | 15:01 WIB

Adopsi Spirit Doll: Antara Tren, Sugesti, dan Delusi

Kamis, 13 Januari 2022 | 14:53 WIB

Rekor! Menlu AS Kunjungi 112 Negara

Selasa, 11 Januari 2022 | 15:15 WIB
X