Nopia: Oleh-Oleh Khas Purbalingga, Diperkenalkan Keturunan Etnis Tionghoa Sejak 1880-an

- Kamis, 18 November 2021 | 17:32 WIB
Nopia diperkenalkan pertama kali oleh keluarga keturunan etnis Tionghoa pada 1880-an; dan kini jadi oleh-oleh khas Purbalingga. (Foto Badiatul M. Asti)
Nopia diperkenalkan pertama kali oleh keluarga keturunan etnis Tionghoa pada 1880-an; dan kini jadi oleh-oleh khas Purbalingga. (Foto Badiatul M. Asti)

Nopia diperkenalkan pertama kali oleh keluarga keturunan etnis Tionghoa pada 1880-an; dan kini jadi oleh-oleh khas Purbalingga.

Dalam peta kuliner Indonesia, nama Purbalingga nyaris tak pernah disebut. Walau sebenarnya, Kota Perwira ini memiliki sejumlah kuliner khas yang unik, seperti sroto kriyik, sate blater, gulai melung, soto bancar, dan gecot.

Untuk camilan, Purbalingga punya oleh-oleh khas bernama nopia, yang akhir bulan Oktober 2021 lalu, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek).

Nopia sesungguhnya tidak spesifik khas Purbalingga. Kue yang mirip bakpia (Jogja), latopia (Tegal), dan Yopia (Lasem, Rembang) ini, juga populer di Banyumas. Bahkan masyarakat Banyumas dan sejumlah media, juga acapkali menyebut nopia sebagai oleh-oleh khas Banyumas.

Hal itu lumrah terjadi, karena sebuah kuliner memang dinamis. Meski entitasnya berasal dari suatu daerah tertentu, namun pada perjalanannya bisa saja berkembang di daerah lain. Wingko babat contohnya. Kudapan yang berasal dari Babat,  Lamongan, Jawa Timur ini, justru populer sebagai oleh-oleh khas Semarang.

Apalagi Banyumas dan Purbalingga boleh dibilang satu rumpun daerah. Purbalingga termasuk bagian dari Banyumas Raya. Sehingga sangat mungkin memiliki “kuliner bersama”. Wikipedia menyebutkan, nopia banyak diproduksi di kota Purbalingga dan Banyumas. Sehingga tidak salah juga bila ada yang menyebut nopia sebagai oleh-oleh khas Banyumas Raya.

Nopia sendiri adalah kue kering yang terbuat dari adonan tepung terigu dengan campuran bahan lainnya. Rasa manis di bagian isi nopia berasal dari penggunaan gula merah. Jika menginginkan variasi rasa yang lain, tersedia juga pilihan rasa seperti keju, susu, coklat, durian, nangka, dan lainnya.

Mengutip mgriyahotel.com, nopia ini sejenis kue kering yang terbuat dari tepung terigu dan di dalamnya diisi dengan adonan gula jawa dan dibentuk bulat agak lonjong kira-kira sebesar telur ayam.

Proses pembuatannya, setelah adonan gula dibungkus dengan terigu, nopia dimasukkan ke dalam loyang dan di oven besar. Oven besar tersebut  terbuat dari tanah liat. Pembakarannya juga masih memakai cara tradisional, yaitu menggunakan arang. Uniknya lagi, arang tidak berada di bawah oven, tapi di dalamnya. Jadi, kayu bakar dimasukkan ke dalam oven dan dibakar sampai menjadi arang. Setelah itu, arang dikeluarkan dari oven yang sudah panas, baru dimasukkan bahan mentah nopia.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB

Pahlawan Big Data di Tengah Pandemi

Jumat, 19 November 2021 | 21:55 WIB

Proses Terbentuknya Karanghawu

Jumat, 19 November 2021 | 15:37 WIB
X