COP26 di Glasgow: Kepentingan Nasional Mengalahkan Kepentingan Global

- Kamis, 18 November 2021 | 14:36 WIB
Konferensi Perubahan Lingkungan COP-26 di Glasgow, 31 Oktober-12 November 2021 mengalami kegagalan untuk mencapai target. (publicdomainpictures/kai Stachowiak)
Konferensi Perubahan Lingkungan COP-26 di Glasgow, 31 Oktober-12 November 2021 mengalami kegagalan untuk mencapai target. (publicdomainpictures/kai Stachowiak)

Tahun lalu, China memproduksi 3, 84 miliar ton batubara, naik 90 juta ton dibanding 2019. China mengimpor 304 juta ton pada 2020, naik empat juta ton ketimbang 2091. Indonesia termasuk pengekspor batubara ke negara tersebut.

Batubara impor memiliki kualitas yang lebih tinggi dari batubara domestik. Ia dipakai dalam memproduksi baja dan pembangkit tenaga listrik.

Worldmeter mencatat 130 negara menjadi pengguna batubara untuk berbagai keperluan. Pengguna terbanyak adalah China dengan lebih dari 4,3 triliun kubik kaki. India 966,2 miliar, Amerika Serikat 731 miliar, Jerman 257 miliar, Rusia 230 miliar, Jepang 210 miliar, Afrika Selatan 202 miliar kubik kaki. Sisanya memakai batubara dibawah 100 miliar kubik kaki setahun.

Berdasarkan data tersebut, hampir mustahil tercapai konsensus untuk mengurangi penggunaan batubara. Batubara merupakan unsur penting untuk meningkatkan perekonomian nasional yang terpukul  pandemi COVID-19.

Tambahan lagi dalam kondisi pemulihan ekonomi, mana mungkin pemerintah mengeluarkan dana besar untk mewujudkan energi yang dapat diperbarui. Riset dan pembuatanmobil listrik serta menemukan teknologi baru untuk menyimpan bahan bakar fossil.

Ketidaksepakatan terkait penggunaan batubara, dengan sendirinya menyulitkan pengurangan pemanasan global. Dua persen menurut persetujuan Paris pada 2015 dan 1,5 persen sebagaimana yang dibahas dalam petemuan di Glasgow.

Penurunan 1,5% memerlukan  pengurangan emisi hingga 45% pada 2030. Dalam kaitan ini, tidak hanya fokus pada penggunaan batubara tetapi juga pemeliharaan lingkungan.

Sejalan dengan hal tersebut, setidaknya 124 negara sepakat mengakhiri penggundulan hutan pada 2030. Kesepakatan ini boleh jadi tercapai karena saat itu sudah tak ada hutan alam. Diganti perkebunan dengan luas sejauh mata memandang. 

Baca Juga: Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim     

Mengerikan

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB

Geotrek Lintas Kars Citatah

Jumat, 14 Januari 2022 | 15:01 WIB

Adopsi Spirit Doll: Antara Tren, Sugesti, dan Delusi

Kamis, 13 Januari 2022 | 14:53 WIB

Rekor! Menlu AS Kunjungi 112 Negara

Selasa, 11 Januari 2022 | 15:15 WIB
X