Kim Seon Ho dan Dua Sisi Fenomena Cancel Culture

- Jumat, 12 November 2021 | 10:46 WIB
Kim Seon Ho ialah salah satu public figure yang merasakan fenomena cancel culture. Pengucilan dan penolakan terhadap artis dengan skandal. (Pixabay/viarami)
Kim Seon Ho ialah salah satu public figure yang merasakan fenomena cancel culture. Pengucilan dan penolakan terhadap artis dengan skandal. (Pixabay/viarami)

Kim Seon Ho ialah salah satu public figure yang merasakan Cancel Culture. Apa maksud dari fenomena ini?

Cancel culture, dua kata tersebut menjadi sebuah topik utama yang dibahas beberapa minggu terakhir di sosial media.

Apalagi dengan adanya rumor terkait tudingan pemaksaan aborsi oleh pemeran utama drama Korea Hometown Cha Cha Cha, Kim Seon Ho kepada mantan kekasihnya.

Dengan adanya rumor ini, membuat Kim Seon Ho mendapatkan pembatalan dan pemutusan dari beberapa brand atau project film. Sehingga, fenomena inilah yang disebut sebagai cancel culture.

Fenomena cancel culture memiliki arti pengucilan dan penolakan kepada public figur yang memiliki skandal untuk keluar dari pekerjaannya.

Di Negeri Ginseng atau Korea Selatan, cancel culture ini sudah ramai sejak beberapa tahun ke belakang. Namun, menurut artikel nytimes.com untuk sistem cancel culture sendiri sudah ada sejak tahun 1991 dengan istilah yang berbeda yaitu “ren rou sou suo” yang diambil dari bahasa gaul China, dengan arti secara harfiah sebagai “human flesh search”.

Di China, istilah tersebut berkaitan dengan upaya bersama para pengguna internet untuk mengidentifikasi dan mencari informasi terkait koruptor maupun orang-orang dengan tindakan menyimpang secara moral. Upaya ini dilakukan secara daring dan luring yang hasil informasinya akan disebarkan secara publik.

Sehingga, mereka yang teridentifikasi datanya akan mendapatkan pembulian dan kecaman dari masyarakat luas, hingga berujung dikeluarkan dari lingkaran komunitas. Kemudian, di abad 21 upaya tersebut bertransformasi menjadi cancel culture.

Cancel culture umumnya terjadi ketika seseorang atau sekelompok public figure maupun mereka yang memiliki kekuasaan terlibat skandal akibat perilaku dan ucapannya keluar dari batas norma yang telah ditetapkan oleh masyarakat, yang berakibat dengan penarikan sponsor atau dukungan dari orang, perusahaan, atau sebuah brand.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:47 WIB

Tadarus Buku di Bandung: Kini dan Dulu

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:24 WIB

Cuan Mata Uang Kripto untuk Siapa?

Senin, 23 Mei 2022 | 16:13 WIB

Mendesak Perlunya Tim Ahli Toponimi di Daerah

Jumat, 20 Mei 2022 | 16:02 WIB

Peran Guru Mewujudkan Sumedang Simpati

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:40 WIB

Mengelola Nilai Kebijaksanaan

Senin, 16 Mei 2022 | 19:37 WIB

Juara Liga 1 Musim Ini Harga Mati untuk Persib!

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:08 WIB
X