Roti Kecik: Oleh-Oleh Legendaris Khas Solo, Dibuat Auw Liek Nio Sejak 1881

- Minggu, 14 November 2021 | 10:00 WIB
Roti kecik diproduksi oleh Toko Roti Ganep (Ganep Bakery). Toko ini dirintis oleh pasangan suami-istri keturunan etnis Tionghoa pada 1881. (openfoodfacts.org (CC))
Roti kecik diproduksi oleh Toko Roti Ganep (Ganep Bakery). Toko ini dirintis oleh pasangan suami-istri keturunan etnis Tionghoa pada 1881. (openfoodfacts.org (CC))

Roti kecik diproduksi oleh Toko Roti Ganep (Ganep Bakery). Toko ini dirintis oleh pasangan suami-istri dari keturunan etnis Tionghoa bernama Than Tiang San dan Auw Liek Nio pada tahun 1881.

Setiap daerah, hampir bisa dipastikan mempunyai produk khas yang menjadi buah tangan atau oleh-oleh. Semarang populer dengan lumpia dan wingko, Jogjakarta dengan bakpia dan yangko, Bandung dengan peuyeum dan surabi, Surabaya dengan kue lapis dan kerupuk ikan, Jakarta dengan dodol Betawi dan bir pletok, dan seterusnya.

Tak ketinggalan, Solo—kota yang punya slogan The Spirit of Java itu, juga punya oleh-oleh khas. Selain serabi Notosuman yang populer dan ikonik, Solo juga punya oleh-oleh khas lainnya yang sangat melegenda, yaitu roti kecik.

Bersama serabi Notosuman, dan kuliner khas Solo lainnya yakni timlo, sate kere, sate buntel, dan warung HIK, roti kecik ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-ristek) pada akhir Oktober 2021 lalu.

Roti kecik diproduksi oleh Toko Roti Ganep (Ganep Bakery). Toko ini dirintis oleh pasangan suami-istri dari keturunan etnis Tionghoa bernama Than Tiang San dan Auw Liek Nio pada tahun 1881. Nama Ganep diberikan oleh Raja Keraton Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwana X.

Menurut penuturan generasi kelima Toko Roti Ganep, Oh Lioe Nio, sebagaimana dikutip Medcom.id (8/2/2016), Pakubuwana X sangat menggemari roti kecik sebagai camilan. Hidangan ini kerap disajikan sebagai jamuan pertemuan bangsawan pada masa itu. Saking sukanya pada roti kecik, Pakubuwana X secara langsung memberi julukan  “Nyah Ganep” kepada Auw Liek Nio selaku pembuat roti kecik.
 
Auw Niek Nio diberi julukan “Nyah Ganep” karena jumlah anaknya genap. Dalam bahasa Jawa, ganep diartikan sebagai waras, utuh. Makna filosofis Ganep kemudian dirumuskan sebagai: lengkap, utuh, sehat, dan waras. Makna filosofis Ganep ini dicantumkan dalam website resmi Toko Ganep: rotiganep.com.

Toko Roti Ganep beralamat di Jalan Sutan Syahrir 176, Tambaksegaran, Solo. Dalam buku Wisata Jajan Solo Semarang (2009) yang diterbitkan oleh PT Intisari Mediatama disebutkan,  toko sekaligus pabrik roti ini tidak pernah pindah tempat sejak didirikan. Tetapi toko ini berulangkali mengalami bencana.

Semasa perang kemerdekaan, toko yang kala itu sudah dikelola generasi ketiga, rusak. Banjir besar di tahun 1966 juga memporakporandakan Ganep. Terakhir, kerusuhan Mei 1998 telah menghancurleburkan bangunan tersebut. Meski berulangkali mengalami bencana, toko ini tetap bertahan hingga sekarang.

Baca Juga: Sejarah dan Filosofi Mendoan: Gorengan Khas Banyumas dan Warisan Budaya Tak Benda

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bahan Bangunan dari Cicalengka (1907-1941)

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:01 WIB

Penguatan Status Kepegawaian Perangkat Desa

Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Mari Memperbanyak Boks Buku di Stasiun Kereta Api!

Kamis, 29 September 2022 | 11:27 WIB

Invasi Rusia di Ukraina Menuju Tahap Akhir

Kamis, 22 September 2022 | 20:11 WIB

Memahami Tatib Sekolah dengan Menjadi Reporter

Selasa, 20 September 2022 | 21:15 WIB

Citisuk

Senin, 19 September 2022 | 15:35 WIB

Indische Partij Cabang Cicalengka Tahun 1913

Minggu, 18 September 2022 | 14:51 WIB

Bogor Menjadi Destinasi Favorit yang Harus Dibenahi

Rabu, 14 September 2022 | 21:13 WIB
X