Letnan Cornelis Ouwehand, Wasit Sepak Bola Menjadi Direktur Pekerjaan Umum

- Kamis, 11 November 2021 | 12:01 WIB
Cornelis Ouwehand di masa tua. Setelah berdinas di Hindia Belanda, sejak 1920 hingga 1953 dia diangkat sebagai direktur pekerjaan umum Kota Vlissingen, Belanda.  (Sumber: archieven.nl)
Cornelis Ouwehand di masa tua. Setelah berdinas di Hindia Belanda, sejak 1920 hingga 1953 dia diangkat sebagai direktur pekerjaan umum Kota Vlissingen, Belanda. (Sumber: archieven.nl)

Letnan Cornelis Ouwehand mulanya pernah berprofesi sebagai wasit sepak bola. Ia kemudian menjadi Direktur Pekerjaan Umum.

Hari Sabtu, 18 Desember 1915, rumah Letnan Cornelis Ouwehand (1888-1973) dan segala isinya yang ada di Lombokstraat nomor 2 dilelang (AID De Preanger-bode, 17 Desember 1915).

Seperti umumnya para pegawai kolonial yang dipindah-tugaskan, Cornelis menjual harta bendanya yang ada di Bandung kala dipindahkan tempat dinasnya ke Kotaraja, Aceh, pada minggu kedua Desember 1915 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, HNDNI, 13 Desember 1915).

Siapakah Letnan Cornelis Ouwehand? Selain dikenal karena pangkatnya sebagai tentara, ternyata dia punya kontribusi signifikan bagi perkembangan persepakbolaan di Bandung. Selama masa dinasnya di Cimahi dan di Bandung antara 1913 hingga 1915, Cornelis ikut andil sebagai pemain, organistor, dan wasit sepak bola.

Bahkan, dia berjasa memberi jalan bagi klub UNI untuk menggunakan lapangan sepak bola milik militer yang sekarang dikenal sebagai Stadion Siliwangi.

Sebelum lebih jauh membahas sepak terjangnya di dunia persepakbolaan Bandung, saya akan menguraikan sedikit banyak riwayat hidup, termasuk latar belakang keluarganya.

Menurut data yang saya himpun dari antara lain genealogieonline.nl dan archieven.nl, Cornelis Ouwehand lahir di Katwijk, Belanda, pada 22 Juli 1888, sebagai anak sulung dari pasangan Cornelis Ouwehand (1854-1934) dan Cornelia Spaanderman (1854-1925). Cornelis merupakan anak keenam dari sebelas anak Cornelis-Cornelia.

Kakak-kakaknya antara lain Maarten (1880-1928), Zoetje (1881-1949), Jacobus (1883-1958), Dirk (1884-1967), dan Johannes (1886-1970). Sementara adik-adiknya Hendrik (1890-1957), Paulus Johannes (1892-1940), Jacoba Cornelia (1894-1896), dan Cornelia (lahir 1895).

Setamat sekolah menengah, pada 1905, Cornelis masuk akademi militer di Alkmaar (Cadettenschool te Alkmaar) Belanda untuk nantinya ditempatkan di Hindia Belanda (Voor den dienst in Ned-Indie). Rekan-rekan seangkatannya antara lain P.J. Graaff, F.M. Idzerda, J.P. Tuyter, K. de Ridder, J. A. Fleiscber, S. C. W. J. Bijl de Vroe, G. P. van Hecking Colenbrander, dan lain-lain (AID, 4 Juli 1905 dan 29 Juli 1905).

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengapa India Ditinggalkan Australia cs?

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:55 WIB

Ukraina di Ambang Perdamaian?

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:14 WIB

Cibacang dan Cilimus yang Abadi dalam Toponimi

Minggu, 19 Juni 2022 | 15:42 WIB

Haruskah Indonesia Bergabung dengan BRICS?

Selasa, 14 Juni 2022 | 22:08 WIB

Mencetak Generasi ‘Boseh’

Minggu, 12 Juni 2022 | 09:00 WIB

Pecinan Cicalengka sejak 22 Januari 1872

Kamis, 9 Juni 2022 | 16:25 WIB

Karasak itu Nama Pohon dari Keluarga Ficus

Kamis, 9 Juni 2022 | 11:50 WIB

Para Pejabat Cicalengka Tahun 1871-1923

Jumat, 3 Juni 2022 | 15:02 WIB
X